Kamis, November 22, 2012

Michael Anti: Strategi Internet Pemerintah China

Penulis Day Milovich | Kamis, November 22, 2012 | 15.09.00 |

Suatu hari di tahun 2011, Michael Anti (nama aslinya: Zhao Jing) terbangun dalam kehilangan: akun facebook dia di-suspend. China memblokir Facebook, Twitter, dan Youtube. Sekarang, China memiliki 500 juta pemakai internet, 300 juta di antaranya adalah pemakai Wiebo (microblogger). Jumlah ini sama dengan jumlah pemakai blog di Amerika.
Video ini menunjukkan bagaimana China berhasil membendung arus informasi dari luar dan bagaimana kebijakan nasional internet di China.
Michael Anti dalam video ini menyampaikan presentasi memukai tentang teknologi China, "Satu tweet warga China itu sama dengan 3,5 tweet orang Inggris. Karena inilah, orang China menganggap microblog Wiebo sebagai media, bukan hanya mengutip headline media. Lebih lagi, orang China mengakui kebebasan berbicara dan hak asasi manusia sebagai hak-lahir mereka, tidak sama dengan konsep impor tentang hak untuk diistimewakan dari Amerika. Kebijakan nasional internet China itu sangat sederhana: blokir dan kloning."



Indonesia Subtitle:

Beberapa hari terakhir ini, saya mendengar orang membicarakan tentang Cina. Dan saya juga membicarakan bersama teman-teman tentang Cina dan Internet di Cina. Ini sesuatu yang sangat menantang bagi saya. Saya ingin membuat teman-teman saya mengerti bahwa: Cina sangat kompleks. Jadi saya selalu ingin berkata, seperti, di satu sisi begini, di sisi lain berbeda. Anda tidak bisa menceritakan hanya dari satu sisi saja. Saya berikan contohnya. Cina termasuk negara BRIC. BRIC berarti Brazil, Russia, India, dan Cina. Negara-negara dengan kebangkitan ekonomi ini sangat membantu perkembangan ekonomi dunia. Tapi pada saat yang bersamaan, di sisi lain, Cina termasuk ke dalam negara SICK, istilah yang diterbitkan di Facebook IPO (penawaran saham perdana). SICK berarti Suriah, Iran, Cina, dan Korea Utara. Keempat negara tersebut tidak memiliki akses ke Facebook. Jadi pada dasarnya Cina adalah negara SICK BRIC.

(Tawa)

Kemudian sebuah tindakan baru-baru ini dilakukan untuk mengawasi Cina dan Internet-nya. Dan sekarang, hari ini saya ingin menceritakan tentang pengalaman pribadi selama beberapa tahun terakhir, dari dalam tembok tersebut. Jadi, bila Anda penggemar Game of Thrones, Anda mengerti sekali kebutuhan akan tembok besar bagi sebuah kerajaan kuno. Yaitu mencegah hal-hal aneh datang dari utara.
Sama halnya dengan Cina. Di sisi utara, terdapat tembok besar, Chang Cheng. Tembok ini melindungi Cina dari penyerangan selama 2.000 tahun. Tapi Cina juga memiliki tembok api (firewall). Inilah pagar digital terbesar di seluruh dunia. Tidak hanya untuk mempertahankan rezim Cina dari kepentingan luar negeri, dari nilai-nilai universal, tapi juga untuk mencegah warga negara Cina sendiri untuk mengakses Internet global, dan memisahkan mereka ke blok tersendiri yang tidak tergabung dengan dunia luar.

Jadi, di sini "Internet" memiliki dua Internet. Yang satu adalah Internet, yang lainnya adalah Cinanet. Tapi bila Anda membayangkan Cinanet seperti tanah buangan, tempat tak berpenghuni, Anda salah. Kita bisa gunakan metafora sederhana di sini, yaitu permainan kucing dan tikus, untuk menjelaskan kondisi 15 tahun terakhir perseteruan terus menerus antara pensensoran Cina, pensensoran dari pemerintah, atau si kucing, dan pengguna Internet di Cina. Kami, si tikus. Terkadang perumpamaan pun ini terlalu sederhana.

Jadi hari ini saya ingin mendefinisikannya kembali, ke versi 2.0. Di Cina, kami memiliki 500 juta pengguna Internet. Di sanalah populasi terbesar Netizen, pengguna Internet, di seluruh dunia. Jadi meskipun Internet di Cina sangat disensor, tapi komunitas Internet di sana sangat berkembang. Bagaimana mungkin? Sederhana saja. Anda punya Google, kami punya Baidu. Anda punya Twitter, kami punya Weibo. Anda punya Facebook, kami punya Renren. Anda punya YouTube, kami punya Youku dan Tudou. Pemerintah Cina menutup setiap layanan Web 2.0 internasional, dan kami orang Cina menduplikat semuanya.

(Tawa)

Jadi, itulah yang saya sebut pensensoran secara cerdik. Dan ini tidak hanya untuk mensensor Anda. Kadang kebijakan nasional internet di Cina sangat sederhana: Tutup akses, dan buat tiruannya. Di satu sisi, mereka harus memenuhi kebutuhan masyarakat akan jejaring sosial, karena ini sangat penting; orang menyukai jejaring sosial. Tapi di sisi lain, mereka ingin menjaga server-nya tetap berada di Beijing agar mereka dapat mengakses data tersebut kapanpun mereka mau. Ini adalah salah satu alasan Google keluar dari Cina, karena mereka tidak bisa menerima fakta bahwa pemerintah Cina ingin memiliki server-nya.

Terkadang para diktator Arab tidak mengerti prinsip dua sisi ini. Contohnya, Mubarak, dia menutup akses Internet. Dia ingin mencegah Netizen untuk mengkritiknya. Tetapi sekali Netizen tidak bisa online, mereka turun ke jalan. Dan hasil akhirnya sudah jelas. Kita semua tahu bahwa Mubarak secara teknis sudah jatuh. Kemudian, Ben Ali, presiden Tunisia, justru tidak mengikuti aturan yang kedua. Yaitu menjaga server tetap di tangan Anda. Dia memperbolehkan Facebook, yang berasal dari Amerika Serikat, untuk tetap berjalan di dalam Tunisia. Jadi dia tidak bisa mencegah penduduknya untuk membuat video-video kritik atas korupsinya. Hal yang sama terjadi. Dialah yang pertama jatuh di pergolakan Arab baru-baru ini.

Anehnya dua kebijakan pensensoran yang cerdik di awal tadi tidak mampu mencegah jejaring sosial di Cina menjadi pergerakan massal, persimpangan antara opini publik dan mimpi buruk pemerintahan Cina. Karena kami memiliki 300 juta mikro-blogger di Cina. Jumlahnya sama dengan keseluruhan populasi Amerika Serikat. Jadi 300 juta orang, mikro-blogger ini, bahkan menulis tweet-nya di media yang disensor ini. Tapi Cinanet itu sendiri dapat menghasilkan energi yang sangat besar, yang tidak pernah terjadi sebelumnya sepanjang sejarah Cina.

2011, bulan Juli, dua buah kereta bertabrakan, di Wenzhou, kota di sisi selatan. Segera setelah kecelakaan tersebut, pihak yang berwenang ingin menutup-nutupi peristiwa tersebut, mengubur fakta. Netizen Cina sangat marah akan hal tersebut. Selama lima hari pertama setelah peristiwa kecelakaan, muncul 10 juta tulisan kritik di jejaring sosial, yang tidak pernah terjadi sebelumnya sepanjang sejarah Cina. Dan tahun ini pada akhirnya, menteri perkereta-apian dilengserkan dan divonis penjara selama 10 tahun.

Lalu, baru-baru ini, ada perdebatan lucu antara Kementerian Lingkungan Beijing dengan Kedutaan Amerika Serikat di Beijing karena kementerian menyalahkan kedutaan karena melakukan intervensi terhadap politik internal Cina dengan menyebarkan laporan kualitas udara di Beijing. Jadi, angka dari laporan kadar partikel PM 2.5 versi kedutaan menunjukkan angka 148, yang artinya berbahaya bagi area tertentu. Jadi saran mereka, jangan pergi keluar hari ini. Tapi data dari kementerian menunjukkan angka 50. Yang artinya baik, aman untuk pergi keluar Tapi 99 persen dari mikro-blogger Cina berpihak kepada sisi kedutaan. Saya tinggal di Beijing. Setiap hari, saya harus melihat data dari kedutaan Amerika untuk mengetahui apakah saya bisa membuka jendela hari ini.

Mengapa jejaring sosial Cina, bahkan di dalam pensensoran sangat berkembang? Alasannya adalah karena Bahasa Cina. Anda tahu, Twitter dan tiruannya memiliki batasan penulisan sebanyak 140 karakter. Di dalam Bahasa Inggris artinya terdapat 20 kata atau kalimat yang berisi tautan pendek. Mungkin di Jerman, dalam Bahasa Jerman, hanya cukup untuk "Aha!"

(Tawa)

Tapi dengan Bahasa Cina, sebanyak 140 karakter berarti sebuah paragraf, sebuah cerita. Anda dapat menemukan semua elemen jurnalistik di dalam sana. Contohnya, berikut ini adalah Hamlet, dari Shakespeare. Isinya sama persis. Anda bisa lihat bahwa satu tweet dalam Bahasa Cina sepadan dengan 3,5 kali tweet dalam Bahasa Inggris. Orang Cina selalu mencari celah, benar? Jadi karenanya, orang-orang Cina melihat mikro-blogging ini sebagai media, bukan hanya cukup untuk judulnya saja.
Dan juga, tiruan ini, Sina company adalah mereka yang membuat tiruan Twitter. Mereka memberinya nama sendiri, yaitu Weibo. "Weibo" adalah terjemahan Bahasa Cina untuk "mikro-blog." Weibo memiliki inovasinya tersendiri. Di bagian penulisan komentar, Weibo di Cina lebih seperti Facebook, dibandingkan dengan Twitter yang asli. Jadi inovasi dan tiruan ini, di dalam Weibo dan mikro-blogging ketika mereka datang ke Cina di tahun 2009, mereka segera menjadi media itu sendiri. Mereka menjadi media bagi 300 juta pembaca. Weibo menjadi media. Apapun yang tidak disebutkan di Weibo, tidak akan muncul di area publik Cina.

Tapi juga, media sosial Cina juga turut mengubah pola pikir orang-orang dan kehidupan di Cina. Contohnya, mereka memberikan orang-orang yang tidak memiliki suara saluran untuk menyuarakan aspirasi mereka. Kami memiliki sistem petisi, yang menjadi alternatif di luar sistem yudisial, karena pemerintah pusat Cina ingin tetap menjaga pencitraan bahwa kekaisaran itu baik. Pejabat-pejabat lama adalah para penjahat. Jadi para pembuat petisi, para korban, rakyat jelata, naik kereta ke Beijing untuk mengajukan permohonan petisi ke pemerintah pusat, mereka ingin kekaisaran untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Tapi ketika semakin banyak orang datang ke Beijing, ada risiko terjadi revolusi. Jadi pemerintah mengirim mereka kembali selama beberapa tahun terakhir. Beberapa bahkan dijebloskan ke penjara. Tapi sekarang kami memiliki Weibo, jadi kami menyebutnya petisi Weibo. Orang cukup menggunakan telepon selular mereka untuk menulis tweet.

Jadi cerita kemalangan Anda, ada kemungkinan akan dibaca oleh reporter, profesor, atau selebritas. Salah satunya adalah Yao Chen, ia adalah salah satu mikro-blogger terpopuler di Cina, yang memiliki sekitar 21 juta pengikut. Ini hampir seperti stasiun TV nasional. Bila Anda -- jadi cerita Anda akan dibaca olehnya. Jadi media sosial Weibo ini, bahkan di dalam pensensoran, tetap memberikan penduduk Cina kesempatan yang sebenar-benarnya bagi 300 juta orang untuk setiap hari berkomunikasi, mengobrol bersama. Mirip seperti TED yang sangat besar bukan? Dan juga, inilah pertama kalinya pergolakan publik terjadi di Cina. Orang-orang Cina mulai belajar bagaimana bernegosiasi dan berbicara kepada orang.

Tapi juga, si kucing, pensensoran, tidak berdiam diri. Sangatlah sulit untuk menulis kata-kata sensitif di Weibo di Cina. Contohnya, Anda tidak bisa menulis nama presiden, Hu Jintao, dan Anda juga tidak bisa menulis nama kota Chongqing, dan sampai baru-baru ini, Anda tidak bisa mencari nama marga para pejabat utama di sana. Jadi, orang-orang Cina sangat ahli dalam permainan kata, alternatif kalimat dan bahkan meme. Mereka bahkan menggunakan nama -- Anda tahu, memberikan nama untuk peperangan yang mengubah dunia ini di antara "kuda padang rumput" dan "kepiting sungai". Kuda padang rumput adalah caonima, persamaan bunyi untuk bedebah (motherfucker), istilah yang para Netizen gunakan untuk menyebut diri mereka sendiri. Kepiting sungai adalah héxiè, persamaan bunyi untuk harmoni, atau pensensoran. Jadi kuda padang rumput melawan kepiting sungai. Jadi, ketika peristiwa politis, atau peristiwa menarik lainnya terjadi, ketika Anda melihat Weibo, Anda akan melihat hal-hal aneh terjadi. Kata-kata dan frase aneh, bahkan bila Anda memiliki PhD untuk studi Bahasa Cina, Anda tak akan dapat mengerti.

Tapi Anda tidak bisa berangkat lebih jauh, tidak, karena Sina Weibo di Cina, pertama kali diluncurkan persis satu bulan setelah akses ke Twitter.com secara resmi ditutup. Ini berarti sejak permulaannya, Weibo telah berhasil meyakinkan pemerintahan Cina, bahwa mereka tidak akan menjadi ancaman dalam bentuk apapun terhadap rezim yang memimpin. Contohnya, apapun yang Anda tulis seperti "berserikat" atau "bertemu" atau "berjalan bersama", akan secara otomatis direkam dan dianalisis dan dilaporkan untuk analisis politik lebih jauh. Bila Anda mencoba untuk membuat suatu perkumpulan, bisa-bisa polisi sudah menunggu di sana sebelum Anda tiba. Mengapa bisa begitu? Karena mereka memiliki data. Mereka memiliki apapun di tangan mereka. Jadi mereka bisa menggunakan skenario seperti di tahun 1984 terhadap pada pemrotes. Jadi ini sangatlah serius.

Saya ingin memberi tahu Anda satu hal lucu lagi selama permainan kucing dan tikus ini. Si kucing adalah pensensoran, tapi di Cina tidak hanya terdapat seekor kucing, tapi juga terdapat kucing-kucing lokal. Kucing pusat dan kucing-kucing lokal.

(Tawa)

Anda tahu, server berada di tangan para kucing lokal, jadi bahkan -- ketika para Netizen mengkritisi pemerintahan lokal, pemerintahan lokal tidak dapat mengakses data di Beijing. Tanpa menyuap kucing-kucing di pusat, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, hanya dapat memberikan permohonan maaf.

Jadi selama tiga tahun terakhir ini, pergerakan sosial mengenai mikro-blogging ini sangat mengubah pemerintahan lokal, mereka menjadi lebih menjaga transparansi karena mereka tidak dapat mengakses data-nya. Server-nya ada di Beijing. Cerita tentang kecelakaan tabrakan kereta, mungkin pertanyaannya bukanlah mengapa 10 juta kritik terjadi dalam lima hari, tapi mengapa pemerintah pusat Cina membiarkan selama lima hari tersebut terjadi kebebasan berpendapat. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dan ini sangat sederhana, karena bahkan para pemimpin teratas sudah cukup muak dengan orang ini, mereka-mereka yang tidak tunduk pada kepentingan pusat. Jadi mereka membutuhkan alasan -- opini publik adalah alasan bagus untuk menghukum mereka.

Tapi juga, kasus Bo Xilai ini yang menghebohkan ini, dia adalah pangeran muda. Tapi sejak Februari hingga April tahun ini, Weibo benar-benar menjadi tempat untuk menyebarkan rumor. Anda juga bisa menemukan berbagai candaan dan sindiran untuk si pangeran ini, hampir seperti hidup di Amerika Serikat saja. Tapi bila Anda berani menulis atau menyebutkan misalnya kudeta palsu terhadap Beijing, Anda sudah pasti akan ditahan. Jadi kebebasan seperti ini sangat spesifik hanya di hal-hal tertentu saja.

Jadi bagi orang-orang Cina, pensensoran adalah hal yang normal. Malah di sana Anda akan temukan, kebebasan adalah hal yang aneh. Pasti ada sesuatu di baliknya. Karena dia adalah pemimpin sayap kiri yang populer, maka pemerintah pusat ingin menyingkirkannya, dan mereka seakan-akan sangat baik, meyakinkan seluruh penduduk Cina bahwa orang ini sangat jahat. Jadi Weibo, rumah bagi 300 juta orang, menjadi alat yang sangat efektif bagi peperangan politik.

Teknologi ini sangat baru, tapi secara teknis sebenarnya sangat kuno. Teknik ini dipopulerkan oleh Sang Pendiri, Mao Zedong, dulu ia menggerakkan jutaan penduduk Cina dalam Revolusi Kultural untuk menghancurkan setiap pemerintahan lokal. Sederhana sekali, karena pemerintah pusat Cina bahkan tidak perlu membentuk opini publik. Mereka cukup membuat sebuah target dimana pensensoran dihentikan sementara. Di Cina, tidak melakukan pensensoran telah menjadi alat politik.

Jadi seperti itulah kabar terbaru mengenai permainan kucing dan tikus ini. Media sosial telah mengubah pola pikir orang-orang Cina. Semakin banyak orang Cina mendukung dan menginginkan kebebasan berbicara sebagai hak asasi manusia, bukan sebagai produk ekslusif yang diimpor dari Amerika. Dan juga berperan sebagai forum nasional untuk berpendapat bagi warga Cina, seperti latihan kependudukan, untuk mempersiapkan demokrasi yang akan hadir di masa depan. Sayangnya hal ini belum mampu mengubah sistem politik di Cina, justru pemerintah pusat Cina menggunakan struktur server terpusat ini untuk memperkuat posisinya untuk melawan pemerintah-pemerintah lokal dan faksi-faksi yang berseberangan.

Jadi, seperti apa masa depan kami? Biar bagaimanapun, kami tetaplah para tikus. Seperti apapun masa depan terbentuk, kami akan terus berjuang atas nama para tikus. Tidak hanya di Cina, tapi juga di Amerika Serikat terdapat beberapa kucing kecil lucu, tapi tetaplah jahat.

(Tawa)

SOPA, PIPA, ACTA, TPP, dan ITU. Kita juga bisa lihat seperti Facebook dan Google, yang mengklaim diri mereka sebagai sahabat para tikus, terkadang terlihat berjalan berdampingan bersama para kucing. Jadi kesimpulan saya sangat sederhana. Kami warga Cina akan berjuang untuk kebebasan kami, dan Anda silahkan mengawasi kucing-kucing nakal Anda. Jangan biarkan mereka bergaul dengan kucing-kucing Cina. Hanya dengan jalan inilah di masa depan, kami akan bisa mencapai mimpi para tikus: bahwa kami bisa menulis tweet kapanpun, dimanapun, tanpa rasa takut.

(Tepuk tangan)

Terima kasih.

(Tepuk tangan)

---
Penerjemah: Ian Adiwibowo
Review: Imelda Andriany
---
Source: http://www.ted.com/talks/michael_anti_behind_the_great_firewall_of_china.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda bisa berkomentar tanpa perlu login.

 
Day Milovich (c) 2013. Diberdayakan oleh Blogger.