Selasa, Oktober 23, 2012

Rock, Literasi, dan Mesin-Waktu Ruang Kesepian

Penulis Day Milovich | Selasa, Oktober 23, 2012 | 21.22.00 |



Rock, Literasi, dan Mesin-Waktu Ruang Kesepian *)
[Membaca Proses Kreatif PujiPistols dan Energi Gosek Tontonan]
---
Oleh Day Milovich,,
---
Saya sampai halte Puri, Pati, jam 22:00 malam, karena perjalanan sejak jam 20:00 dari Semarang, sempat terhenti di Demak karena hujan. Sekarang pertemuan tidak lagi terjadi karena hujan dan musimnya. Musim masih terjadi, namun macet dan hujan sering menjadi penghalang. Imam Bucah sudah menunggu dengan black dog (begitu dia menamakan vespanya), langsung menuju Gedung Kesenian Pati.
Kawan-kawan sedang menyiapkan #OktoberPujiPistols, ada kardus donasi, seorang crew kehilangan ponsel, dan kesibukan membahas kebutuhan acara besok. Mereka anak muda semua, karib dengan Facebook, barisan yang mengubah Pati menjadi penuh event kesenian. Jejaknya terlihat di stiker, pamflet slogan, dan berita koran, atau di Facebook mereka.
Indikator sebuah event kesenian non-komersial yang berhasil, adalah: rutin diadakan, didukung banyak lapisan dan banyak penyaji, dan masing-masing pegiatnya memiliki dokumentasi dan publikasi di akun jejaring sosial mereka masing-masing.
Sepanjang perjalanan saya melihat Pati yang sudah berubah dalam tata kota, memiliki banyak taman dan tempat tongkrongan. Banyak anak motor, berpacaran keliling kota, banyak pula yang singgah saat event seni diadakan. Orang-orangnya ramah, makanannya murah, mau ke kota mana saja mudah. Kota yang menyenangkan.
Imam Bucah mengaku, "Pertama kali pulang dari Semarang, setelah sekian lama, saya harus kembalikan memori tentang Pati. Menghafal jalan dan mengumpulkan pertemanan." Mungkin demikian pula saya, yang sedang mengembalikan-ingatan tentang kota ini. Beberapa kawan yang pernah perform di event Kethek Ogleng Rembang.
Imam Bucah dan saya duduk di emperan toko, memesan es jeruk dan kopi susu. Malam itu langit tidak mencair, ingatan saya kembali cair. Kami bicara tentang Pati yang tidak bebas banjir, lapisan kerja, pentingnya gagasan berkesenian, dan kesibukan menyiapkan event. Tidak menyinggung tentang negara dan kota lain. Membincang kesenian, selalu membincang orang-orangnya, sejarah ruang, dan gagasan yang dikerjakan bersama.
Saya mengenal Imam Bucah sejak lama, saat masih sama-sama di Semarang. Bukan sekali dia menginspirasikan gagasan berkesenian kepada saya, tentang estetika yang harus menyatu dengan "perlawanan", serta "jalan" yang ditempuhnya untuk menjaga lingkungan hidup. Imam Bucah dalam banyak sisi mengajarkan jalan-pedang berkesenian kepada saya, begitu pula, perjalanannya ke Rembang di event bulanan Kethek Ogleng menginspirasi event lain bernama Gosek Tontonan.
Tahun 2011 Pati kota mengadakan gebrakan berkesenian saat event Launching Buku Pujipistols berjudul "Anjing Tetanggaku Anjing". Dahsyatnya, event ini menjadi pemecah kebekuan setelah beberapa tahun Pati merindukan event kolaborasi (dikerjakan bersama). Tercatat waktu itu, kawan-kawan dari Surabaya, Semarang (pegiat dari komunitas Openmind dan Hysteria), Rembang (Kethek Ogleng), seniman-seniman kawakan Pati dari 21 kecamatan, serta penikmat kerja budaya, datang di Hutan Kota Pati. Sejak saat itu pula, moment Launching Buku Pujipistols (2011) menjadi mula kegairahan baru dunia seni di Pati. Uniknya, permulaan-baru itu diawali dengan selebrasi literer, dari buku kumpulan puisi PujiPistols.
Imam Bucah yang kerap disebut "Presiden Gosek Tontonan", mengaku tidak mudah melakukan kerja kolaborasi. "Pas pertama kali sehabis -pulang- saya asing di Pati. Saya mencari teman, mengembalikan memory tentang Pati". Tanah kelahirannya itu mengalami banyak perubahan peta, dari tata-kota sampai pertemanan. Kesenian terlahir dari ritual dan pergaulan, itu sebabnya kesenian lokal harus dikembalikan dari memori publik, sampai lahirlah "Gosek Tontonan".
Apa kabar Gosek Tontonan? Imam menjelaskan sambil menikmati es jeruk dan rokoknya, "Pati memiliki karakter massa sendiri dan pendekatannya lain. Saya ingin menghilangkan inferrior complex. Mengapa takut dengan seni Solo, seni rupa Jokja? Padahal ini bisa menjadi gerakan nasional. Bayangkan kalau seniman ini menolak sebuah kebijakan. Kekuatan ini tidak dihitung birokrat. Gosek Tontonan ditujukan untuk lapisan ketiga, kawan-kawan yang sekarang bekerja di balik layar."
Mestinya malam itu saya bertemu Timur Budi Raja atau PujiPistols, namun sudah terlalu malam. Imam Bucah mengajak saya ke APS, kontrakan yang menjadi sanggar (workshop), rumah-singgah (safe house), sekaligus tempat event kecil disemai di sini, seperti: pameran lukisan, pemutaran film. Banyak poster "Gosek Tontonan" yang di-desain dengan drawing-pen, arsiran tangan halus, hitam putih, dan penuh jargon sederhana. Imam Bucah tidur di kamar sebelah, dia mendengarkan lagu-lagu greates memories, sedangkan saya tidur di karpet ruang tamu, sambil melihat perkembangan status kawan-kawan di jejaring sosial, dan membaca buku tebal dari Taring Padi. Saya seperti memasuki mesin waktu saat membalik-balik buku itu, sembari melihat poster-poster Gosek Tontonan, begitu pula mendengar Imam tertawa-tawa saat membaca status Facebook kawannya, "Saya beli kartu ini, 15 ribu rupiah bisa untuk Facebookan setahun, dan buka 10 situs."
Imam yang saya temui malam itu, masih dengan tubuhnya yang dulu, tertawa seenaknya, bicara dengan fakta yang mengejutkan, dan bangga dengan tanggung jawab berkesenian. Imam yang selalu mendatangi event Kethek Ogleng, yang semakin pintar mengoperasikan Corel dan Photoshop.
Malam itu saya tidur tenang, tanpa mimpi. Saya bangun saat Imam Bucah mereparasi vespanya, "Setiap pagi kegiatanku dandan vespa. Satu-satunya barang yang tidak protes saat saya bongkar di bawah matahari pagi. Tubuh saya bergerak, lalu mandi dan ngopi."
Saya dan Imam Bucah meluncur ke warung kopinya PujiPistols. Saya seperti memasuki masa lalu saat memasuki warung PujiPistols. Baru dua kali saya melihat PujiPistols di siang hari, kali ini dia berada di warungnya sendiri. Letaknya di gang dekat Hotel Karisma, sebelah utara masjid, dia selalu mendengarkan suara adzan dari jarak dekat. Dinding depan warung terbuat dari bambu, pintu dari multipleks, sisi kanan-kiri warung dari batu bata yang tidak dikuliti. Asap dari dapur menghitamkan sebagian besar batu bata. Kompas Minggu di antara buku-buku tanpa rak, ditumpuk begitu saja. Ada kendi, tape recorder, mp3 player dengan colokan USB untuk siapa saja yang memainkan musik dari flashdisk. Setiap ada orang datang, PujiPistols selalu bertanya, "Sudah makan? Ini ada nasi, sayur, dan lauk." Dia mengajak pembeli makan bersamanya. Poster dan guntingan headline koran lama tertempel di dinding kanan. Sudah jarang ada orang yang mengingat judul berita koran dengan cara menempel. Ada foto presiden Soekarno (jarang sekali Soekarno disebut "mantan presiden), poster pementasan teater "Mastodon dan Burung Kondor" Rendra, poster "Invasi Bolpoin" Imam Bucah, dan kliping koran yang mempublikasikan buku antologi puisi Mbah PujiPistols berjudul "Anjing Tetanggaku Anjing". Stiker-stiker hitam putih dan penanda geliat ruang seni kota pati, tertempel di mana-mana. Sebuah ruang imajinasi yang tak-terjangkau imajinasi saya sebelumnya, namun lantas terjadi perbincangan asyik antara saya dan PujiPistols.
Buku PujiPistols banyak yang hilang. Dia tinggalkan bukunya di Aceh sekitar 50 buku, dapat donasi buku dari teman baiknya di Facebook, lebih dari 40 buku, selain itu dia rajin mengkoleksi buku dan kliping Kompas Minggu, meskipun dia tidak menyukai jika media koran menjadi titik pijak kualitas sastra, terutama para penulis muda.
PujiPistols masih terlihat datar. Tidak ada bayangan popularitasnya di Facebook saat saya bertemu siang itu, tidak ada ulah dari seseorang yang istimewa, di mana tubuh dan kesehariannya sudah menjadi puisi.
Nickname (nama pena) PujiPistols dipilih saat mengajak dia memasuki jejaring sosial bernama Facebook, dia menyukai Sex Pistol's. Musik dunia belum seperti sekarang. Musik menjadi inspirasi, memasuki inner seseorang, membawa pada fansmania. Musik belum menjadi penanda trend adu cepat download, belum menjadi "fashion", dan belum menjadi euforia massa dalam sekejap. Musik di zaman muda PujiPistols adalah musik yang memberikan impression (kesan), bukan expression (ungkapan) bagi tubuh. "Saya kesulitan memainkan versi Queen, kita mainkan versi Extreme saja," ajaknya saat memainkan "Love of My Life".
"Saya menulis puisi karena -kesepian-, mencari ruang yang terbebas dari politik dan euforia digital," begitu pengakuannya.
Seperti musik pula, puisi PujiPistols mengalami pergeseran. Saya bilang kepada PujiPistols, "Puisimu sekarang sudah terbebas dari diksi anjing," maksud saya tentunya bahwa puisi-puisinya sudah tidak lagi seperti pada kumpulan puisi "Anjing Tetanggaku Anjing".
PujiPistols mengatakan, "Akhir-akhir ini puisi saya bercerita tentang ruang-ruang, sejarah tubuh, sejarah massa, sejarah semua orang. Saya ingin ada spirit dari masa lalu. Angin tahun 80-an dan angin sekarang itu sudah berbeda."
Musik yang berbeda, angin yang berbeda, dan puisi yang berbeda.
"Saya dulu suka membaca komik "Si Buta dari Goa Hantu" karya Ganesh TH., Djair, dan Musashi. Saya baca Musashi 5 kali, setiap selesai membaca, selalu ada penafsiran baru. Novel Musashi menceritakan bagaimana sang tokoh "memilih" antara cinta dan jalan samurai, ternyata dia memilih jalan samurai. Musashi menyatu dengan pedang, dia menjadi samurai tak-terkalahkan. Suatu ketika, kakinya terkena duri. Samurai tanpa-tanding itu kakinya bisa diserang duri kecil.
PujiPistols tidak menulis puisi sebagai teks yang terpisah dari hidupnya. Dia mengalami teks itu. Dia mengalami tidak naik kelas karena sakit malaria satu setengah bulan, dan pendidikannya hanya sebatas lulusan SMP. Dia mengalami merawat ibunya yang sakit, selama 8 tahun. Dia mengalami sakit dan demam di warungnya itu sambil terus membaca dan menulis puisi sejak 10 tahun yang lalu. Prinsip orang Jawa "Ngelmu itu kelakone kanti laku" (Ilmu itu terjadi dengan menempuh jalan).
"Saya menulis puisi karena di situ ada ruang. Saya tidak perlu memahami puisi saya. Sejarah yang saya tulis itu berasal dari sejarah tubuh saya."
PujiPistols menjelaskan pengalamannya memasuki dunia jejaring sosial dan penerbitan buku, "Saya harus editing sampai fajar di sini bersama Arief. Tadinya hanya cetak 22 eksemplar, berkembang menjadi 50 eksemplar." Salah satunya ada di tangan saya sejak tahun 2011.
Tidak mengherankan jika "literatur" dan "editing" merupakan jalan lain untuk memasuki puisi-puisi PujiPistols. Bedanya dari puisi lain adalah puisi-puisi PujiPistols memiliki setting kesejarahan tubuhnya yang sangat kuat. Dia menghadirkan banyak diksi yang menyejarah bagi tubuhnya: pasar (tempat dia mengalami masa kecil dan kulakan dagangan sampai sekarang), kamar (saya tidak berani memasuki kamar sempit PujiPistols), anjing (sebagai umpatan pemberontakan), kata (yang berlalu dalam syair dan buku-buku bacaannya), SkyPE, kopi (kadang dia minum 6 gelas kopi sehari), mural, bahasa, telepon, gerimis, sekolah, masa kecil, ideologi, dan orang-orang yang berpengaruh dalam literasi hidupnya (emak, Andy Warhol, Nietzsche, dll.), kawan lama, dan pesbuk. "Biar miskin yang penting bisa pesbukan", ucapnya bercanda.
Membaca puisi PujiPistols akan kedodoran jika membacanya secara linier. Narasi dalam puisi-puisi PujiPistols lebih mirip aforisma yang disatukan, cara pandang ensiklopedis, boleh diawali dari mana saja, diulang-ulang, dan dikembalikan pada bacaan awal sampai tersusun sebuah gambar, atau kolase dan fragmen yang tinggal dimasuki begitu saja. Ada tempo yang berubah, kadang hanya musik (ruang yang diceritakan dalam puisi) tetapi tanpa lirik (kata-kata verbal dalam puisi). Tanpa menjiwai progessive rock dan post-rock, membaca puisi PujiPistols akan kesulitan.
Tidak mengherankan, saat disajikan dalam #OktoberPujiPistols (22/10) ataupun di launching buku "Anjing Tetanggaku Anjing", banyak penyaji memainkan musikalisasi puisi dan baca puisi PujiPistols dengan bentuk yang sungguh berlainan. Puisinya seperti sebuah lagu post-rock, bisa dimainkan dengan gaya apa saja, tidak harus bisa dielaborasi dengan kata-kata panjang.
Malam itu saya kembali ke Dewan Kesenian Pati, acara yang penuh penonton, meskipun arena lumba-lumba yang kemarin dibangun sebagai sarana hiburan di lapangan belum beroperasi. Saya tidak menunggu berbicara, karena, kegembiraan saya saat melihat kawan-kawan menyajikan puisi-puisi PujiPistols dengan cara berbeda-beda. Ada Sheela, Maya, Emi, Kiki, Desi, Syifa, santri dari Salafiyah Kajen, musisi pati, anak-anak punk, performance art, dll. Mereka bermain di panggung joglo, depan MMT besar, reproduksi drawing Imam Bucah, serta tulisan "Akar Hujan" yang kelak akan menjadi rumah sastra kawan-kawan Pati. Bukan kebetulan jika PujiPistols menjadi anggota Komite Sastra di Dewan Kesenian Pati. Bukan pula mengada-ada kalau energi sastra yang berlanjut itu dirayakan dengan penuh kebersamaan.
Malam itu, kemewahan terjadi tatkala sebuah event #OktoberPujiPistols menyimpan satu pekerjaan rumah: melakukan kajian rutin sastra, di sebuah forum tersendiri, yang menjaga budaya literasi di Pati. Jika dulu geliat seni di Pati diawali dengan launching buku PujiPistols "Anjing Tetanggaku Anjing" dan dijaga energinya sampai sekarang, tentu lebih mantap jika ada ruang tersendiri untuk bicara sastra.
Timur Budi Raja dan saya (Day Milovich) berbicara tentang proses kreatif PujiPistols. Imam Bucah bersedia memegang mikropon untuk lebih memperkenalkan dunia PujiPistols kepada penonton. Imam Bucah biasanya memilih membaur dengan penonton, memilih hilang, karena baginya tidak etis kalau harus pegang mikrofon. "Saya hilang. Saya menjadi penonton. Acara ini milik mereka," katanya sambil menunjuk orang-orang yang mengerjakan acara.
Malam itu, PujiPistols dihadirkan lebih transparan. Tentu lebih transparan lagi jika orang-orang bersedia datang ke warungnya, membaca koleksi bukunya dan berdialog lebih dalam tentang proses kreatifnya. Proses kreatif tidak pernah selesai diceritaka di atas kertas.
Ini memang bukan forum bedah buku, ini forum untuk menceritakan proses kreatif PujiPistols. Bukan pula forum kritik.
Gosek Tontonan memang bukan forum kritik. "Datang bersih, pulang bersih. Puas tetapi tidak terbebani. Setelah selesai acara, harus tidak ada masalah." kata Imam Bucah. Maksudnya, jangan sampai orang datang ke Gosek Tontonan lalu meninggalkan "kotoran", melakukan "koreksi".
"Kalau baru tingkat gagasan berkesenian sudah ada yang menghambat, itulah yang harus disingkirkan," kata Imam Bucah.
Pesimisme dalam "gerilya" kesenian memang hambatan besar. Budaya literasi rendah, demikian pula. Keterlibatan semua orang dalam sebuah event adalah kemewahan yang luar biasa, namun peristiwa event tetap akan berlanjut di perbincangan lain, kerumunan lain, mungkin itu bernama rumah sastra, atau jejaring sosial, jika dibarengi dengan garapan sumberdaya manusia yang memperhatikan bangunan literasi. Event jalan, literasi tak pernah berhenti.
Selesai acara, saya kembali ke APS bersama Imam Bucah. Malam itu sebelum tidur dan setelah tidur, berbincang dengan Timur Budi Raja tentang tentang. Apa saja yang bisa dibicarakan selagi sedang bertemu. Setelahnya, saya berpamitan untuk pulang ke Rembang, diantar Imam Bucah sampai halte. Perjalanan pulang naik bis Sinar Mandiri, saya mengirimkan pesan kepada Mulyanto Ari Wibowo, "Saya pulang, turun Taman Kartini." Lalu terpejam, tidur di bis seperti biasanya. Terbayang tanggal 27 Oktober besok: sebuah stasiun tua, nyala senthir dan lingkaran orang-orang bersila, tawa dan puisi, event bulanan bernama Kethek Ogleng #20.
Apa yang sedang terjadi di kotamu?

Day Milovich,,
Webmaster, artworker, temanmu.
---
untuk: PujiPistols dan Imam Bucah
---
*) Catatan dari Acara Diskusi Proses Kreatif "Oktober Puji Pistols" di Gedung Kesenian Pati, Senin 22 Oktober 2012.
:))

1 komentar:

  1. Bagus banget blog nya. http://desisyifa.blogspot.com/?m=1

    BalasHapus

Anda bisa berkomentar tanpa perlu login.

 
Day Milovich (c) 2013. Diberdayakan oleh Blogger.