Kamis, Oktober 11, 2012

Pertumbuhan Kertas dan Kata-kata Kesepian dalam Buku

Penulis Day Milovich | Kamis, Oktober 11, 2012 | 15.50.00 |

Pada suatu hari,, seorang teman meminta bantuan saya untuk memilih penjaga perpustakaan pribadinya. Dia pemburu buku kuno, kolektor andal, tidak terlalu percaya pengarsipan digital library, suka menyelenggarakan diskusi kecil di rumahnya, dan punya pengalaman bookaholic sejati sejak masih kecil.
Pekerjaan memburu buku kuno dia awali dengan rajin membaca koran. Membaca berita, menilik apakah artikelnya dimuat, dan yang terpenting: mengikuti berita kematian. Dia suka sekali dengan berita kematian.
Kalau dia melihat ada pengumuman orang mati pada usia teramat tua, dia segera mendatangi rumah orang itu. Tidak tahu nomor telepon orang mati itu? Dia menelepon 108 di kota setempat, lantas mendeteksi apakah sang almarhum memiliki koleksi buku kuno. Lumayan, kadang dapat barang antik juga.
Lama-lama dia kaya, berhasil menjadi kolektor buku kuno. Ada buku-buku Bung Karno, Pramoedya Ananta Toer, sampai kitab-kitab yang tidak bisa ditemukan di toko.
Bau kertas baginya adalah sensasi yang bisa membawanya kembali ke masa kecil, mengingat seseorang, atau setidaknya satu kata. Betapa sebuah kata tidak pernah dewasa.
Kata selalu menikmati masa kanak-kanak abadi.
"Aku ingin menjadi kata, sebab kata tak pernah lapuk. Dia tinggal di halaman buku nan luas, kata selalu menua untuk dilahirkan kembali. Kata bisa berubah wujud menjadi apa saja, tanpa kewarganegaraan, bisa melintasi bibir gadis cantik sampai perompak," begitu dia pernah menuliskan sebuah surat kepadaku.
Sekarang temanku ini benar-benar merasa sudah tua. Dia merasa seperti topeng, diduplikasi orang-orang, menjadi tiruan di mana-mana. Tidak pernah sungguh-sungguh dipakai, hanya menghiasi ruang tamu atau pintu gudang.
Gagasannya dipakai di mana-mana, justru saat dia tidak mau menulis di koran lagi. Dia tidak mau menjadi berhala, dia takut kapak Ibrahim.
Obsesinya hanya membaca di usia tua, menghabiskan waktunya untuk menikmati kubangan pengetahuan, sastra yang meninabobokkan kesedihan, atau sesekali birahi stensilan yang mengenangnya pada masa puber.
Sekarang dia kebingungan mencari seorang penjaga perpustakaan.
Dia bilang dengan mimik serius, tentu saja dengan kecerewetan seorang pembaca buku.
"Aku butuh seseorang. Seorang manusia. Bukan mesin. Kertas-kertas ini dibuat dari gilingan kayu. Orang Amerika sudah lama tidak mencetak uang kertas, mereka mencetak uang dengan kapas. Itu sebabnya semua buku-buku kertas ini, ohh,, betapa berharganya. Aku ingin kamu pilih satu di antara orang-orang yang datang hari ini, aku mau satu yang bisa menjaga buku-bukuku. Ini hartaku, ini sejarahku."
Saya mengerti, semacam kesedihan melintasi rasa gembiranya. Atau sebaliknya. Deru pada sisa hidup, haru pada sejarahnya sendiri, cemburu pada orang lain yang belum terpilih yang kelak menyentuh buku-bukunya.
Saya siapkan pertanyaan. Pertanyaan yang berkisar pada satu hal, tentang bagaimana "mengukur" daya baca seseorang, seberapa cintanya pada buku.
Dia masuk rumah, naik ke lantai dua, sementara aku keluar menunggu orang-orang yang akan datang di teras rumahnya.
Pelamar pertama, bercerita kepadaku,
"Saya sangat menyukai buku. Setiap jalan-jalan, saya selalu mampir ke toko buku. Saya tabung uang agar bisa membeli buku. Alangkah senangnya jika nanti saya masih bisa terus membaca. Saya ingin bekerja di sini karena merasa cocok dengan dunia buku, dunia diskusi. Berharap bisa menyelami pengetahuan tanpa henti."
Gagal. Saya tidak menyukai pelamar pertama. Sebenarnya tidak perlu alasan.
Sudah jelas tipikal orang seperti ini adalah tipikal intelektual lintah, potensial mencuri buku. Egois. Dia datang sebagai pekerja yang ingin menikmati fasilitas dengan kedok pengetahuan. Itu bukan pengetahuan. Itu hobi. Apapun yang berdasarkan hobi, hanya akan mengarah kepada kesenangan. Orang yang mengikuti hobi, itu disebut amatir. Karena dia belum terlalu amatir, maka aku masukkan dia ke golongan hamba-hamba yang amatiran alias amatir rata-rata.
Kalau memang dia calon pegawai yang cerdas, tentu dia memikirkan bagaimana cara mengembangkan perpustakaan ini untuk kepentingan orang banyak. Bukan hanya demi kehausannya pada pengetahuan. Lagi pula, dia belum melihat seperti apa koleksi buku yang akan dia hadapi.
Kalau buku ini ibarat perempuan yang harus disayang, tentu Pelamar Pertama tadi tipe buaya darat. Apa saja mau dibaca.
Sekali lagi, dia gagal. Saya mencoretnya dari daftar.
Pelamar Kedua.
Saya tidak menyangka dia seorang bankir pintar. Dia bisa melewati pertanyaan psikotes yang saya ajukan.
Pertama saya bertanya, "Apa nama gunung tertinggi sedunia?". Dia merenung agak lama, mengingat sesuatu, lalu bilang, "Tergantung. Apakah ketinggiannya dilihat dari permukaan air laut, ataukah diukur dari dasar gunungnya?".
Pintar sekali.
"Hewan jantan yang bunting itu apa?" tanyaku. Dia berseru, "Tentu saja ku-da la-ut. Saya rajin mengikuti kuis trivia dan menonton Discovery Channel."
Dia sepertinya normal dan pintar, namun, ini soal memilih penjaga rak buku. Tentu saja saya tolak.
"Mengapa saya ditolak?" tanya si Parlente ini.
Saya menjelaskan padanya versi singkat saja. Maksud saya, singkat waktunya, bukan singkat kata-kata saya.
Dia saya tolak karena dia orang yang berpijak pada solusi. Dia menyiapkan segala macam jebakan, sampai harus menghafal jawaban. Jelas ini bukan tipe pelayan publik, bukan tipe orang swasta yang selalu dituntut improvisasi.
Dia pintar berdalih hanya karena menghadapi masalah yang tidak pernah dia temukan. Jawaban-jawaban dia banyak saya temukan di kuis. Itu bukan berpikir, melainkan menggunakan informasi untuk kepentingan dirinya.
Apa jadinya kalau dia nanti membuka buku-buku "rahasia" yang tidak dipublikasikan. Tentu dia akan sangat rajin menulis di blog, rajin teleponan untuk cerita kepada orang-orang. Saya sangat beruntung memiliki sifat paranoid ketika menghadapi kepintarannya. Waspada itu penting.
Pelamar Ketiga.
Mahasiswa semester akhir, membawa tas punggung ke mana-mana. Dia mengaku suka diskusi, sudah lama mengenal pemikiran teman saya. Dia detail menceritakan bagaimana pentingnya diskusi, kondisi bangsa dan negara ini, serta generasi muda yang lebih menyukai jejaring sosial daripada membaca. Bahkan dia sodorkan beberapa buku tulisannya sendiri serta sebagian antologi. Juga rajin menyebut nama-nama orang terkenal.
Pekerjaannya akhir-akhir ini, mengangkat isu lokal menjadi isu nasional. Prakteknya, ke mana dia singgah, selalu saja "ngrasani" presiden.
Dia sering mengadakan acara-acara besar. Dibalik semua itu, dia selalu menggarisbawahi: saya suka membaca.
Dia tipikal sastrawan pejuang yang terobsesi pada kemerdekaan berpikir. Sambil jualan buku.
Apakah saya terima? Tentu saya tolak mentah-mentah orang ini.
Mau dibawa ke mana nasib harta berharga bernama perpustakaan kalau dia jaga?
Tidak. Pokoknya tidak. Tidak ada tapi-tapian.
Banyak sekali tipe orang semacam dia. Mengaku berjuang, nggak tahunya jualan. Lebih suka mengutip orang-orang terkenal, tetapi tidak mau belajar dari sekelilingnya. Baru membaca satu buku dari seseorang, dia sudah gampang menyatakan salut ataupun benci.
Coba kalau acara-acara yang dia adakan itu biayanya dipakai untuk mendirikan perpustakaan-perpustakaan kecil. Kalau ada anak baru bertanya hal mudah, langsung dimentahkan, tidak digarap sebagai seorang manusia ataupun teman. Semua orang adalah manusia yang berpotensi menjadi pasukannya.
Kesombongan yang berkedok pengetahuan dan perubahan, membuatnya tidak cocok menjadi penjaga buku. Menjadi penjaga buku itu harus sabar menjelaskan, membaca satu buku berulang-ulang bukannya menjelajah menuruti iklan buku. Membaca banyak, bertindak banyak. Pelamar ketiga ini gagal pula.
Sampai tiga jam lebih dua menit, tidak ada pelamar lagi. Teman saya turun dari lantai dua, melihat tidak ada orang. Sepi.
"Bagaimana hasilnya?" tanya teman saya.
Bingung juga bagaimana saya mau menjawabnya.
Saya menggeleng, "Belum ada. Mungkin akan ada satu orang lagi yang datang. Mereka rata-rata gagal di pertanyaan awal," kataku.
Teman saya mengangguk-angguk, "Tidak masalah. Itu artinya kamu sangat selektif. Dan masih belum ada yang bisa menjawab pertanyaanmu."
Bukannya bangga, saya malah bingung dengan cara berpikirku sendiri. Tapi memang, masih ada satu pertanyaan yang belum aku ajukan kepada para pelamar itu karena mereka sudah keburu gagal di sepuluh menit awal.
Sepeminuman teh kemudian, seseorang datang. Dia berjalan kaki, membawa buku catatan kecil dan sebuah spidol.
Teman saya berbisik, membikin kesepakatan dengan saya: saya bertanya, teman saya hanya boleh mendengarkan dan menerima apapun penilaian saya.
Ini bukan trivia, ini bukan psikotest, bukan pula penerimaan pegawai biasa. Ini soal memilih orang yang bisa menjaga buku-buku temanku.
Pertanyaan pertama.
"Kalau kamu bangun setelah semalaman membaca buku, apa yang sering kamu lihat?"
Dia menjawab, "Cicak melompat dari gelas kopi. Itu yang sering saya lihat setiap akan mencuci gelas di pagi hari."
Saya dan teman saya, saling pandang. Menahan diri. Tatapan kami sudah mengatakan, "Kita bicarakan nanti."
Pertanyaan kedua.
"Buku-buku akan digantikan oleh file-file digital. Bagaimana menurutmu?"
Pemuda ini dengan tenangnya berdiri, mengamati buku-buku di rak, sambil menjawab pertanyaanku. Tanpa menoleh, dia bilang, "Kalian lupa pada satu hal. Kalian takutkan invasi teknologi, tetapi melupakan satu hal."
Saya dan teman saya, saling pandang. Tidak bisa menahan diri. Pemuda itu melanjutkan, sambil melihat-lihat buku di rak sebelah kanan.
"Kalian lupa bahwa ditemukannya kertas itu takdir dari langit. Tidak bisa ditolak manusia.
Setelah manusia menemukan kertas, dia tidak menggunakannya untuk menulis, melainkan untuk merokok. Suatu kehormatan. Baru kemudian mereka sibuk menggandakan kitab suci.
Kamu pikir bangsa Eropa yang memulainya? Bukan. Bangsa Korea lebih dulu menemukan mesin cetak. Payah. Ketahuan kalau kamu berdua mengumpulkan buku hanya untuk kenikmatan otak kalian, tetapi tidak tahu mengapa kertas diciptakan. Kertas diciptakan untuk menuliskan kebenaran. Kalian boleh tertawakan itu. Kalian boleh bilang ada banyak kepalsuan di balik berita, kebohongan di balik buku-buku, tetapi, mereka memiliki ketulusan: mengatakan kebenaran. Sudah banyak penyaksi sejarah mati karena buku, dirayakan pemikirannya oleh generasi berikutnya dengan banyak buku. Itu yang disebut takdir, bahwa seorang penyayang buku akan mengatakan kebenaran di atas kertas. Ingat baik-baik, kertas itu takdirmu. Dia menjadi ijazah, menjadi kitab yang dianggap sesat lalu dibakar, menjadi surat berharga, menjadi kalimat-kalimat yang membuat kita bertikai dan menangis, bahagia karena sebuah kalimat. Kertas itu takdir manusia. Sejak tadi aku mencari buku yang aku maksud, tetapi tidak ada. Kalian tidak punya koleksinya. Kalau kamu menolak orang yang termakan iklan buku, kamu sendirilah yang paling menikmati iklan buku. Lihat koleksimu. Sampah semua. Hanya pengiklan yang menyukai buku-buku seperti ini. Menyedihkan. Kamu merasa tenang karena memisahkan diri dari dunia luar. Ingin menikmati masa tua dengan membaca, membaca dengan tenang. Tak ubahnya semut yang mengumpulkan makanan sebelum musim bencana datang. Mengerikan. Kamu membeli dan membaca, tetapi tidak menanam apa-apa untuk mengganti kertas-kertas yang sudah kamu kumpulkan ini. Kamu memisahkan diri dari duniamu sendiri. Sayangnya, tepat saat kamu menua, kamu baru menyadarinya."
Dia benar-benar suka membaca buku. Saya sedang berpikir untuk menerimanya. Tetapi dia pergi. Seperti tidak pernah datang menemui kami.
Teman saya diam. Saya hanya melihat jejak bayangan pemuda itu.
Dia telah pergi. Tidak diterima.
---
Day Milovich,,
Webmaster, artworker, your friend.
:))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda bisa berkomentar tanpa perlu login.

 
Day Milovich (c) 2013. Diberdayakan oleh Blogger.