Jumat, Oktober 12, 2012

Menyusun Kata dan Makna Puisi

Penulis Day Milovich | Jumat, Oktober 12, 2012 | 13.33.00 |



Menulis puisi pada tahapan awal sebenarnya persoalan memilih kata (diksi) dan menyusunnya. Kalau ada seratus kata tersedia dan memungkinkan dipilih, tentu ada alasan mengapa sebuah kata (atau kalimat) dipilih. Begitu sebuah kata disusun bersama yang lain, kata itu akan mengalami pergeseran makna-asal, setidaknya, kata itu memasuki pemandangan baru, menjadi figur yang direka penulis puisi. Menulis berarti memilih dan menyusun.
Bahasa figuratif, disebut pula bahasa kiasan. Kiasan tidak harus mengganti "gadis" dengan "bunga, tidak pula seperti mengganti "kemarahan" dengan "api di dadaku".

Tujuan menuliskan kiasan, antara lain:
1. Mendeskripsikan "sesuatu" agar menjadi penting.
2. Memberikan sensasi dan imajinasi.
3. Menghasilkan tambahan makna. Prinsipnya, kata yang tadinya berdiri sendiri dan memiliki makna-asal, akan dibongkar dan punya makna baru setelah bersanding dengan kata lain.
4. Memadatkan realitas. Cerita yang panjang, bisa dipersingkat dan lebih manis dengan puisi.

Kiasan bisa terjadi dari menyusun (termasuk memenggal).
Mari perhatikan contoh puisi berikut ini:

--- [quote]
Perempuan itu berbaring, menghadap
benam matahari, membelah tanah.
Bunga bertabur, merah putih, lepas
dari akarnya. Sakit ini telah lama.
Telapak tangan orang-orang membuka doa.
Tubuh berpasang kembali dengan asalnya.
--- [/quote]

Tentang apakah puisi itu? Pemakaman.
Seperti apakah pemakamannya? Jawaban pembaca bisa berlainan.
---
Saya mencoba tanpa pemenggalan baris, puisinya menjadi begini:

--- [quote]
Perempuan itu berbaring, menghadap benam matahari, membelah tanah. Bunga bertabur, merah putih, lepas dari akarnya. Sakit ini telah lama. Telapak tangan orang-orang membuka doa. Tubuh berpasang kembali dengan asalnya.
--- [/quote]

Seorang pembaca, menjelaskan kepada saya, arti yang dia tangkap dari puisi tanpa pemenggalan:
Yang mati perempuan, dia menghadap matahari tenggelam (arah Barat), tanah dibelah atau dibuka, agar dia bisa berbaring. Lalu orang-orang menaburkan bunga, warnanya merah putih. Bunga-bunga itu asli, diambil dari akarnya. Dia mati karena sakit. Lalu orang-orang mendoakan, agar tubuh itu kembali kepada asalnya, dari tanah kembali ke tanah. Begitulah sebuah puisi bisa menggambarkan kalimat-kalimat panjang ketika "sesuatu" (dalam contoh ini: pemakaman) dilihat dari satu sudut pandang pembaca.
Sepertinya, puisi itu tanpa kiasan, bukan?

Sekarang saya coba memenggalnya menjadi begini:

--- [quote]
Perempuan itu berbaring, menghadap
benam matahari, membelah tanah.
Bunga bertabur, merah putih, lepas
dari akarnya. Sakit ini telah lama.
Telapak tangan orang-orang membuka doa.
Tubuh berpasang kembali dengan asalnya.
--- [/quote]

Ada pemenggalan, ada penafsiran lain. Ternyata jawaban pembaca tadi, lain lagi mengartikan puisi itu. Dia memberikan tambahan berikut:
"benam matahari, membelah tanah" itu berarti mataharinya sangat panas. Kondisi mau tenggelam pun dia seakan-akan membelah tanah.
"bunga bertabur, merah putih, lepas" sepertinya ini menceritakan banyak orang mati, atau tidak seorangpun yang mati, karena di awal puisi tidak diceritakan berapa jumlah yang mati. Hanya menyebut "perempuan", bukan "seorang perempuan" atau "beberapa perempuan". Bisa jadi, "perempuan" yang dimaksud dalam puisi ini bukan manusia, tetapi Ibu Pertiwi, apalagi diperkuat dengan diksi "merah putih, lepas", mungkin ini negara yang sedang kacau.
Sampai di sini, ternyata pemenggalan baris dalam puisi, dapat menciptakan tambahan makna. Apresiasi dari pembaca pertama, ternyata bisa berbeda dari apresiasi pembaca kedua. Kata dan kalimat yang dipakai: sama persis, bahkan tanda baca tiada beda, namun karena pemenggalan baris terjadilah perbedaan cara membaca.

Puisi juga harus bisa memberikan sensasi dan imajinasi.
Dua kata ini sering mendapatkan konotasi negatif. Sensasi, diturunkan dari "sensation" (sense+ation). "Sense" bisa berarti "indera" atau "makna". Lebih tepatnya, "sensation" adalah proses pelibatan indera terhadap suatu makna. Bisakah "mata" (salah satu indera kita) "melihat" gambaran dalam puisi pemakaman di atas? Artinya, bisakah kita menggambarkan "adegan" secara "visual"? Begitu pula indera yang lain. Semakin sebuah puisi melibatkan "indera" pembaca untuk memasuki makna (menurut pembaca) maka puisi itu semakin "dekat" dan "terasa". Kata "sensasi" belakangan diartikan "menghebohkan" dan "bombas", entah apa maksudnya. Sedangkan kata "imajinasi" diturunkan dari "imagination" (imagine+ation). "Image" itu citraan, bentukan pikiran, ketika pikiran kita "melihat" sesuatu yang sedang digambarkan. "Sensasi" maupun "imajinasi" itu proses, melibatkan indera dan pikiran.
Kalau indera dan pikiran tidak terlibat saat sebuah puisi hadir di pikiran, puisi itu tidak ubahnya menjadi kata-kata biasa. Nggak ada petualangan sama sekali bagi indera dan pikiran.
Penggunaan kiasan, bukanlah satu-satunya cara dalam membangun makna sebuah puisi. Begitu pula, pemilihan diksi yang asing bagi telinga pembaca, juga bukanlah ciri dari sebuah puisi. Puisi, pada dasarnya berawal dari kesederhanaan memilih kata (diksi) dan bagaimana menyusunnya. Semakin sebuah kata biasa dipilih penulisnya, semakin puisi itu menghasilkan banyak makna. Keindahan memilih dan menyusun, seperti cahaya putih yang akan memberkas menjadi pelangi, setelah melewati indera dan pikiran pembaca.
Tetaplah menulis puisi, jangan segan berbagi di sini.

Day Milovich,,
Founder Group Jagat Sastra di Facebook

Tulisan ini juga dimuat di:
http://www.facebook.com/groups/jagatsastra/permalink/426288777428948/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda bisa berkomentar tanpa perlu login.

 
Day Milovich (c) 2013. Diberdayakan oleh Blogger.