Kamis, Oktober 25, 2012

Kulino Resikan

Penulis Day Milovich | Kamis, Oktober 25, 2012 | 15.02.00 |


"Kulino Resikan". Tulisan itu saya baca di kamar mandi APS (Anak Pulau Seprapat). "Kulino Resikan" berarti "Biasa Bersih". Bukan kalimat perintah. Sekadar kabar bahwa para penghuninya suka kebersihan. Ngeri juga kalau memasuki kamar mandi tulisannya garang, "Kencing Harap Disiram", "Jangan Buang Softex di Closed", "Siram Sampai tidak Meninggalkan Bau".
Kesadaran tinggi pada kebersihan, justru semakin halus atau bersih dari peraturan yang mengancam. Lebih asyik kalau masih ada teguran manusiawi, misalnya, salah belok di jalan satu arah (biasanya di perumahan yang penuh gang), diingatkan secara langsung. Bukan dengan tulisan. Atau setidaknya diganti yang agak lucu, "Pelan-pelan, Banyak Anak-anak", menjadi "Harap Pelan, Banyak Anak Artis".
Ruang publik, menurut Gramsci, merupakan medan represi status quo. Justru di ruang publik terjadi penerapan peraturan. Semakin banyak aturan verbal seperti itu, jalan menjadi ruang publik menakutkan. Baru memasuki sebuah kampung, sudah ada warning "Ngebut Benjut", "Anda Sopan Kami Segan", ada juga yang diberi akhiran "... sudah banyak yang jadi korban, mau coba?".
Kalau yang lewat orang asing (bukan warga kampung itu), kenapa segalak itu? Kalau yang lewat orang yang biasa lewat, kenapa aturannya begitu terus?
Jalan amannya: perhalus atau tiadakan aturan verbal, ganti dengan tegur sapa manusia. minimal yang manusiawi. Misalnya: dari tulisan "Gang Buntu" menjadi "Malu bertanya? Silakan jalan-jalan."
Bagaimana dengan peraturan di tempat Anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda bisa berkomentar tanpa perlu login.

 
Day Milovich (c) 2013. Diberdayakan oleh Blogger.