Kamis, Oktober 11, 2012

Bersanding dalam Diam

Penulis Day Milovich | Kamis, Oktober 11, 2012 | 17.09.00 |



Suatu hari, ada sepasang kekasih bertemu. Melepas rindu. Keduanya bertanya kabar, berpelukan, menanyakan apa yang selama ini dilakukan, sesekali berciuman, dan menceritakan apa yang "telah" terjadi. Tentu saja disertai harapan-harapan ke depan, tentang janji berdua, yang isinya hanya tentang ikatan. Mereka terlalu sering menghitung kesepakatan dan mengingat kenangan, seputar mana yang harus dipatuhi, dan mana yang boleh dilakukan. Betapa sedikitnya "boleh" itu.
Tak lama kemudian, ada dua manusia tua: satu lelaki, satu perempuan. Mengenakan jaket tebal, kaca mata, jalannya sudah kurang tegap. Satunya mengenakan rok renda, menyisakan kecantikan yang pernah ada di wajahnya. Rupanya, keduanya juga berjanji-temu di taman itu.
Sepasang kekasih? mungkin. Kalau keduanya sepasang kekasih, pastilah itu terjadi di masa muda mereka, dulu. Sepasang teman? Mungkin.
Keduanya tidak banyak bicara. Bersalaman, mempersilakan duduk di bangku taman milik semua orang itu, dan membuka bungkusan. Duduknya memunggungi sepasang kekasih yang lebih dulu datang di taman itu.
Menyodorkan makananpun nyaris tanpa bicara. Keduanya menikmati sebungkus roti manis, tanpa daging, dan meminum air putih. Keduanya menikmati angin, menikmati anak-anak kecil berkejar-kejaran di sekitar kursi taman. Mungkin di antara kedua orang tua itu, ada cucunya, atau cucu temannya.
Tidak jarang, kedua orang tua ini, memejamkan mata, menghirup udara segar. Bibir tersenyum, sesekali tertawa. Tidak peduli sekelilingnya, tak sedikitpun bersitegang saat bersanding dengan entah kawan atau kekasihnya itu. Tak pernah mengomentari tingkah orang-orang di sekelilingnya.
Pertikaian sepasang kekasih muda yang ada di belakangnya, agak surut, namun dua kekasih muda ini, lama-lama penasaran juga. Siapa dua orang ini, apa yang "akan" mereka bicarakan? Sejak tadi belum ada pembicaraan.
Keduanya mencoba nguping, penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
Hanya terpisah sandaran kursi taman, telinga keempat manusia itu sangat berdekatan.
"Bagaimana kabar cucumu?" tanya Perempuan Tua.
"Masih suka berlari dan mendengar ceritaku sebelum tidur," kata Lelaki Tua.
Perempuan Tua mengangguk, tersenyum lagi. Dia membuka buku kecil, ada foto gadis kecil tersenyum. Lelaki Tua ikut melihat, dan mengamati beberapa persamaan garis wajah antara gadis kecil di foto dan Perempuan Tua. Tidak ada pembicaraan.
Lelaki tua itu berkata,
"Dulu aku biasa di taman ini. Waktu itu aku masih suka mengenangmu, duduk sendirian, berharap kamu datang. Sekarang kamu datang. Kita sudah menua. Aku baru menyadari, betapa indahnya jika dulu kita bisa bertemu tanpa banyak bicara seperti sekarang. Udara yang lebih segar di masa itu, berlarian yang lebih bebas dan bertenaga. Sekarang, pada akhirnya, aku lupa segala pertikaian yang pernah terjadi dulu. Betapa indahnya pikiranku yang telah lupa hal-hal buruk yang pernah aku lakukan padamu."
Lalu si Perempuan Tua menjawab,
"Sekarang aku selalu tersenyum jika anak-anak muda bertikai di taman ini. Mereka pasti akan bahagia seperti kita. Hanya saja, mereka perlu lebih lama menikmati segarnya udara di sini. Bau tanah basah. Rembulan yang sama dengan rembulan kita yang dulu. Ternyata butuh waktu seumur hidup, untuk mau saling mendengarkan, tanpa banyak bicara. Duduk berdampingan seperti kamu dan aku sekarang ini."
Keduanya menikmati angin di taman itu. Sepasang kekasih yang sedang ribut tadi, ikut menikmati angin pula. Tiba-tiba diam. Hanya saling menggenggam tangan kekasihnya.
---
Day Milovich,,
Webmaster, artworker, your friend.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda bisa berkomentar tanpa perlu login.

 
Day Milovich (c) 2013. Diberdayakan oleh Blogger.