Sabtu, November 05, 2011

Tomy telah Dioperasi Plastik oleh Langit

Penulis Day Milovich | Sabtu, November 05, 2011 | 09.56.00 |



Tomy telah Dioperasi Plastik oleh Langit

Semua orang mencari Tomy, namun Tomy bukanlah lelaki yang memiliki sebaris alamat. Dia sulit dicari. Tidak ada yang tahu. Aku mendapat complaint dari orang banyak, mendesak untuk memberikan informasi: di mana Tomy sekarang. Tentu saja aku tidak tahu. Dia memilki lima nomor telepon, namun hanya untuk memanggil. Tidak pernah sms, panggilan selalu dengan private number. Satu-satunya alat komunikasi yang dipakai Tomy adalah email. Tomy tidak punya facebook.
Lelaki klasik yang sibuk mengatur dirinya sendiri, sehingga tidak mau wilayahnya dimasuki siapapun. Hari ini di kota hujan, besok di kota lumpur. Hari ini pendiam yang sendirian, besoknya dia sudah bertempur. Tomy seorang pemain di dunia hitam, yang memiliki prinsip mengerikan: segala yang di dunia ini hanyalah kebetulan. Dia suka memelihara rambutnya, sekaligus tahu betapa mudahnya memotong rambut itu sampai cepak.
Semua orang membutuhkan Tomy. Bahkan musuh-musuhnya lebih hafal detail Tomy daripada Tomy sendiri.
Tomy yang tak mau ingat berapa perempuan sudah dia pacari.
Orang-orang yang mencari itu, mengancamku secara serius. Aku mendapat bekal uang untuk mencari Tomy yang hilang dari peredaran.
Akhirnya aku menemukan Tomy. Dia meninggalkan pesan di situs DeviantArt, tempat orang-orang boleh meng-upload foto. Ada tiga foto bergambar patung, salon, dan sebuah rumah. Tertulis namanya: Tom Six. Tak ada kota, tak ada nama lain, tak ada orang berkomentar. Aku membaca exif metadata dari gambar itu, diambil dengan kamera Olympus sekian sekian.
Aku datangi kota itu. Di situ telah ada seorang perempuan yang sepertinya sedang menungguku. Seorang perempuan, memperkenalkan diri sebagai Siti. Isterinya. Siti mengajakku ke restoran, memesan es campur dua mangkok. Es yang sangat disukai Tomy. Dia menunjukkan akta nikah, ada foto perempuan itu dan Tomy. Sah.
Namun nama itu bukan "Tomy", dan perempuan itu, yang sekarang di depanku, hanya dituliskan dengan satu kata.
Tak seperti nama kebanyakan perempuan. "Nama saya hanya Siti. Satu kata."
Nama yang bagus, batinku. Tidak seperti orang-orang modern yang namanya tiga sampai empat kata, memuat segala makna, menyertakan rahasia ayah dan ibunya.
Siti menjelaskan, "Mas Tomy memintaku mengirimkan pesan kepadamu. Katanya, Abang bisa menolong. Sebulan yang lalu, saya bertemu Mas Tomy di counter ponsel tempat saya bekerja. Kami berkenalan, makan di restoran, lantas beberapa hari kemudian kami berpacaran. Dia ceritakan semuanya. Tentang perkelahiannya, tentang keinginannya lari dari dunia hitam. Dia mencintaiku. Saya tidak peduli latar belakang seorang lelaki, saya hanya peduli masa depan di mana saya diajaknya membangun masa depan itu. Maka saya menerima cinta Mas Tomy. Kami menikah, secara sederhana. Dia tidak ingin keberadaannya diketahui siapapun."
Aku menarik nafas lega.
"Dia minta aku menolongnya? Menolong dari apa?" tanyaku pada Siti.
"Agar dia lenyap. Tidak ada lagi yang mengingatnya, sehingga tidak ada lagi yang mengejarnya." kata Siti.
Permintaan yang sangat berat. Aku justru sampai pada Tomy untuk mengerti keadaannya.
Mana yang kau pilih. Memperbaiki masa lalu, ataukah meninggalkannya sama sekali? Menghadapi segala perbuatan yang telah dia lakukan, ataukah memperbaiki segalanya dari awal. Itu berarti, hidup baru, riwayat dan pengalaman baru. Berat. Sungguh berat bagiku.
Siti melanjutkan ceritanya, "Tepat setelah kami menikah, Mas Tomy sakit. Demam berdarah. Mas Tomy yang dulu kebal senjata, tak mempan peluru, ternyata roboh, menggigil, hanya karena gigitan nyamuk. Mas Tomy bilang kepada saya, bahwa apa yang sangat dia banggakan dan membuatnya ditakuti semua orang, sebenarnya tidak ada apa-apanya. Itu permintaan Mas Tomy. Biarkan Mas Tomy menjalani hidupnya. Mungkin sekarang Mas Tomy dikejar-kejar orang. Biarkan dia perbaiki hidupnya di lembaran baru, bersama saya. Isterinya. Saya akan sangat menghargai pertemanan Abang dengan Mas Tomy."
Aku masih belum bisa memutuskan. Perempuan itu telah mengambil langkah besar.
"Saya tidak akan memberitahukan alamat Mas Tomy pada siapapun, termasuk Abang. Mas Tomy sudah berganti nama. Sekarang saya hamil." kata Siti.
Baiklah. Mulai sekarang, kamu jalani hidup dengan Tomy, Aku akan memegang rahasia kalian. Kalau nanti ada orang yang bisa mencari Tomy, sampai berurusan dengan dia, kamu boleh salahkan aku." kataku.
"Kalau nanti anak dalam kandunganku lahir, Abang akan menjadi bapak angkatnya. Kalau dia sudah besar, dia akan mencari Abang. Itu juga pesan Mas Tomy. Biar dia mendapat tambahan pendidikan yang lebih dari Abang."
Perempuan itu menunduk, agak lama, lantas memalingkan mukanya ke arah jendela. Pandangan yang jauh, angan yang riuh.
"Yang penting kalian baik-baik saja. Jangan berantem. Kalau ada apa-apa, kabari aku. Ada banyak urusan yang harus aku selesaikan, aku memikirkan bagaimana harus menghadapi orang-orang yang mengejar suamimu. Itu urusanku. Nikmati hidupmu," kataku.
Aku menikmati es campur dengan Siti. Kami bercerita tentang beras, air, dan Tomy yang diajaknya mengaji setiap maghrib.
Aku pulang. Mulai sekarang, aku tidak bertemu Tomy. Mungkin kelak. Dia telah "kembali", tersadar oleh gigitan nyamuk, dan perempuan yang membuatnya takluk. Perempuan yang tak ingin sendiri menjalani masa depan dengannya. Dengan korban yang begitu besar: masa lalu, dan segala masalah yang ditinggalkan. Aku harus menyelesaikannya. Nanti anak Tomy akan lahir, entah lelaki atau perempuan.
Matahari tenggelam, besok terbit lagi. Begitulah, tubuh manusia dewasa sudah berbeda sama sekali dengan tubuh yang dia miliki sejak remaja. Sel tubuh kita berubah setiap hari, ada yang mati, ada yang diperbarui. Jiwa manusia juga demikian. Selama masih ada kesadaran, tak peduli fisik atau jiwa yang berganti setiap hari, manusia tetaplah manusia. Tak peduli betapapun siapa. Baik atau buruk, itu telah terjadi. Belum terjadi. Sedang terjadi.
Tomy telah dioperasi plastik oleh langit. Tomy sulit ditemukan. Perempuan itu melambai. Aku pulang.
---
9:01 PM 9/26/2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda bisa berkomentar tanpa perlu login.

 
Day Milovich (c) 2013. Diberdayakan oleh Blogger.