Sabtu, November 05, 2011

Tentang "Membaca Tanda" dan "Author" yang Bukan-Manusia

Penulis Day Milovich | Sabtu, November 05, 2011 | 15.05.00 |



Tentang "Membaca Tanda" dan "Author" yang Bukan-Manusia

Masih banyak yang mengartikan "tanda" sebagai "sesuatu" dan "author" sebagai "pengarang". Dalam hermeneutika, arti "tanda" dan "author" tidak demikian.

Pengertian Tanda
"Membaca tanda" sering diartikan dengan membaca fenomena, peristiwa, simbol, ataupun istilah. Boleh saja demikian, tetapi arti "tanda" (sign) tidak semudah itu. Lebih luas, lebih indah.
"Tanda" dalam hermeneutika, lebih tepat diartikan sebagai "makna" atau "maksud teks". Kata "apel" adalah [salah satu] penanda saat memaksudkan "apel". Yang dimaksudkan sebagai "apel" disebut petanda (obyeknya). Inipun masih dalam penandaan tradisional.

Contoh sebuah Puisi
Pada perkembangannya, penanda tidak hanya berupa kata, penanda bisa apa saja. Penanda tidak selamanya merujuk pada satu petanda [obyek yang ditandai]. Apakah *kata* "apel" selalu berarti "buah" apel? Tentu tidak.
Misalnya dalam puisi ini:
---
di bawah teduh angin rumah, apel itu terbelah.
hanya jejak merah, di antara cokelat tanah tubuhmu.
---
Lantas apa "tanda" (makna, maksud) dari kata "apel" tersebut? Bisa apa saja. Mungkin dada perempuan, buah apel, gambar lingkaran merah, motif baju (yang dirobek), matahari senja (di dekat kuburan), vagina, atau apa saja.

Barthes: Penanda tanpa Petanda
Mengingat "petanda" (obyek yang ditandai) tidak mudah ditangkap, maka yang terjadi sebenarnya, menurut Roland Barthes, yang ada hanyalah "penanda tanpa petanda".
Cobalah membuat sebuah kalimat, atau katakan sebuah kata, lalu tanyakan kepada semua orang, apa petandanya.
Penanda, sekali lagi, tidak hanya "kata". Bisa apa saja.
Bisa peristiwa, misalnya peristiwanya adalah Day Milovich menulis catatan ini.
Apa petandanya? Apa maksudnya? Tentu tidak akan menghasilkan hanya satu maksud. Tergantung bagaimana pembaca membaca teks berupa peristiwa itu.

Author tidak selalu Berupa Manusia
Masalah lain adalah author. Para pengkaji hermeneutika tradisional, sering mengartikan "author" sebagai pengarang. Memang itulah arti leksikal (menurut kamus) dari kata "author". Ini terjadi karena mereka mengartikan "teks" sebagai tulisan. Tidak semua "teks" (yang dimaksud dalam hermeneutika) itu merupakan tulisan. Bisa saja berbentuk gambar, peristiwa, fantasi, imajinasi, dan seterusnya. Atau keadilan sosial.

Contoh sebuah Pertanyaan
Misalnya, saya membaca "teks" berupa pertanyaan: "Bagaimana konsepsi keadilan sosial menurut al-Qur'an?" Apakah keadilan sosial itu sebuah buku? Bukan. Keadilan sosial itu "teks" (atau lebih gampangnya, semacam wacana). Siapa authornya di situ? Yang jelas, bukan seorang manusia. Juga bukan tuhan. Kalau masih berpijak pada pengertian tradisional tentang author, maka akan terjebak pada penyerahan pasif terhadap teks.

Tuhan bukan "Author" al-Qur'an
Orang-orang yang menganggap Tuhan sebagai "author" dari al-Qur'an, hanya akan sampai pada perdebatan tiada habis, ketika menelaah arti suatu ayat, sehingga hanya akan berhenti pada "semua terserah pada Allah yang menciptakan al-Qur'an".
Tuhan bukan pengarang [buku] al-Qur'an, sebab banyak pihak yang terlibat dalam pembacaan atau pemaknaan terhadap ayat, sejarah, status, dan lain-lain dari "teks" bernama "al-Qur'an".
Kalau al-Qur'an hanya dianggap sebagai "buku" (bukan "teks") dan dikarang oleh author bernama Tuhan, maka penafsiran menjadi ketidakpastian, kepasifan.
Singkatnya, sikap pasif (menyerahkan kepada author) berasal dari ketidakmampuan memahami arti "author". Kalau hanya sampai pada arti tradisional dari "author", begitulah jadinya.

Pengertian "Author"
Author adalah "lembaga yang memberi makna awal pada teks". Lembaga (instution) ini bisa berupa kebiasaan (seperti kebiasaan membaca), kaidah (misalnya kaidah tata bahasa arab), ataupun manhaj (metodologi pemikiran). Jadi misalnya saya sedang membaca teks tanpa "author" yang berwujud manusia (dalam hal ini adalah pertanyaan "bagaimana konsepsi keadilan sosial dalam al-Quran?") maka saya akan berhadapan dengan author berupa: product penafsiran terdahulu, realitas sosial yang sekarang terjadi, kaidah tafsir tematik, dan seterusnya.
Itu sebabnya, kegiatan penandaan (signification) adalah permainan, intertekstualitas, antardisiplin, dan tidak pernah menghasilkan hanya satu makna.

Postscript
Kalau "tanda" dan "author" bisa dipahami di luar arti hermeneutika tradisional, maka segalanya adalah teks yang indah dan penuh makna. Menulis dan membaca puisi, memahami buku, ataupun menikmati lukisan, pasti lebih mengasyikkan.

Sudahkah Anda menulis hari ini? :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda bisa berkomentar tanpa perlu login.

 
Day Milovich (c) 2013. Diberdayakan oleh Blogger.