Sabtu, November 05, 2011

Sepasang Kekasih yang [Merasa] tak Didengar Langit

Penulis Day Milovich | Sabtu, November 05, 2011 | 15.49.00 |



Sepasang Kekasih yang [Merasa] tak Didengar Langit

Pada zaman dahulu kala,,
Hiduplah sepasang kekasih yang saling mencintai. Bukan main dahsyatnya cinta mereka. Kalau biasanya, saat seorang manusia melihat bunga akan teringat kekasihnya, pasangan ini sungguh berbeda. Setiap keduanya berbicara, seluruh bunga diam dan menyimak. Angin menjadi berhenti, lembut tak mau bergerak. Kalau kedua kekasih ini memadu pertemuan, seluruh alam ikut memadu cinta mereka.
Sampailah keduanya sama-sama menyatakan keinginan. Keduanya ingin keinginan itu berhasil. Tidak perlu aku ceritakan apa yang diinginkan sepasang kekasih ini.
Sungguh sayang,, sudah sekian lama, keduanya tidak berhasil mendapatkan keinginannya.
Bahkan sekarang bunga-bunga menjauh, semesta di sekelilingnya seperti tak peduli. Bencana demi bencana datang menimpa. Keduanya "protes" dalam hati masing-masing.
Kira-kira, begini ucapannya,
"Dinda sayang. Kau dan aku tidak pernah putus memanjatkan doa. Di malam hari kau-aku selalu sholat berdua. Mengusahakan rizqi halal, membaca al-qur'an. Dan tidak pernah berhenti shadaqah. Bahkan berziarah selalu dijalani bersama. Lantas mengapa tetap saja keinginan ini tidak terkabul?"
Tidak ada jawaban Keduanya berpisah, untuk sementara. Perempuannya menangis.
Di tengah kesendiriannya, datanglah seorang pemuda berpakaian lusuh, mengenakan celana jins. Tidak tampak sebagai seseorang yang diperhitungkan dalam dirinya. Nasehat dan pencerahan apa yang akan keluar darinya? Masalah macam apa yang bisa diselesaikan dari penampilan pemuda ini?
Pemuda ini mendekati si perempuan yang sedang sendirian.
"Duhai engkau yang dipuji langit. Engkau yang membuat malaikat selalu bertanya. Kau yang sangat disayangi siapapun yang melihatmu. Mengapa masih kau menangis?
Mengapa kau tak menanti hujan saja? Simpanlah airmata itu." kata si pemuda.
Tuturan pemuda ini membuat si perempuan terhenyak dari lamunannya,
"Bagaimana kau bisa tahu semua? Aku punya keinginan dan sulit terkabulkan. Padahal semua syarat sudah aku lakukan."
Pemuda itu menggeleng, "Perkara ini, besar ataupun kecil, bukan kau yang menentukan. Namun kau yang melalui -jalan- untuk memenuhi perkara ini agar terkabul. Semesta memang selalu merindukan kebersamaanmu dengan kekasihmu itu, namun, kau melupakan satu hal.
Kau mengharap buah tetapi lupa menanam. Kau hanya membagi-ratakan, namun tidak melacak asal."
Perempuan itu semakin ingin tahu, "Apa maksudnya?"
Pemuda ini menjelaskan,
"Kau sholat berdua dengan kekasihmu namun tidak pernah sholat bersama orang lain. Setiap kau berbaur, kau tidak suka dengan cara orang lain membacanya. Memang, bacaanmu terpuji, asal doamu asli, tetapi kau tidak pernah melatih hatimu untuk mendengarkan orang lain yang sedang berdoa. Mereka yang sedang berdoa dengan bahasa mereka, selalu kau luruskan. Kau tidak pernah kuat mendengar.
Kau fasih membaca al-qur'an sejak kecil, tetapi kau tak bersedia mendatangi anak-anak kecil yang sedang belajar terbata-bata melafalkan ayat al-qur'an.
Kau beramal untuk dirimu sendiri, kau memutus peredaran ilmu yang seharusnya kau amalkan. Bagaimana bisa disebut manfa’at, jika kau hanya mengukur dari apa yang bisa kau lakukan sendiri?
Kau juga sangat mengerti, rizqi untuk dibagikan, seperti puting susu kambing yang akan sakit jika tak diperah hasilnya. Namun kau hanya memberi dan menyalurkan.
Kau tak tahu mengapa mereka dimiskinkan, kau tak peduli bagaimana penindasan membuat mereka selalu harus menerima. Kau bukanlah tangan yang menyalurkan, namun mata yang tertutup, telinga yang tak terbuka.
Singkatnya, kau tak mau mendengar. Kau menutup tindakan sederhana, membedakan kecil dari besar, membedakan tujuan agung dari langkah-langkah kecil. Kau tak mau mendengar sekelilingmu."
Bagaikan terkena kejutan dari puluhan musim, perempuan itu tersentak. Dia menunduk sedih, dan pemuda itu telah pergi.
Tinggal bayangan.
Di tengah hilangnya pemuda tadi, suaranya masih mengiang, "Anggap saja aku tak pernah mengatakan ini kepadamu. Tutuplah kedua telingamu jika kau tak ingin mendengar, dan biarkan kedua mata menipumu."
Aih, bagaimana kau mau didengar jika tak mau mendengar? Padahal langit selalu memberimu musik terbaik, yang bisa membuat hatimu menari, mendendangkan terkabulnya semua keinginanmu.
Dan perempuan itu, meratap, tepat di depan dinding. Menyadari kesalahan atas caranya mengusahakan keinginan. Dia meratap di depan dinding profile facebook-nya sendiri.
:))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda bisa berkomentar tanpa perlu login.

 
Day Milovich (c) 2013. Diberdayakan oleh Blogger.