Sabtu, November 05, 2011

Senyum, Cermin Terbalik Kesedihan

Penulis Day Milovich | Sabtu, November 05, 2011 | 08.12.00 |



Senyum, Cermin Terbalik Kesedihan

Pada zaman dahulu kala,
Hiduplah seorang perempuan yang sangat cantik. Raut wajahnya halus, rambutnya lurus, seperti perwujudan siang dan malam yang tidak pernah bertentangan. Kalau dia diam, dunia menjadi bersedih. Suaranya lembut sehingga orang mau memaafkan perkataannya yang kadang menyakitkan. Senyum yang tersungging dari bibirnya, kadang menghasilkan suara yang tidak bisa dilupakan, oleh mereka yang melihat, ataupun yang mendengar tawanya. Tindakannya yang sebentar, bisa memenjarakan perasaan orang lain hanya dengan beberapa perhatian kecil. Sungguh cantik dia, tak bisa diceritakan selain dilihat saja.

Suatu malam, dalam kantuknya, dia menangis.
Namun tidak tahu mengapa dia menangis. Tiba-tiba saja, semua tulisannya menyuarakan kesedihan, jeritan hati, tetapi tidak tahu apa yang membuatnya bersedih.
Bahkan dia hanya diam saat kawan-kawannya bertanya, "Kesedihan apa yang membuatmu sampai menangis?".


Apakah sebuah rahasia? Apakah perasaaan yang tak tersampaikan? Apakah marah kepada seseorang? Ataukah lelah karena pekerjaan?
Lantas diapun tertidur.
Masalah belum terselesaikan.
Saat dia bangun, dia jalani aktivitas seperti biasanya. Bangun, mandi, mematut-diri di depan cermin, dan berangkat bekerja. Semua orang menyapa.
Matahari menunggu keberangkatannya, angin menerpakan harum tubuhnya, dan gerai rambut membuat orang-orang terpana. Sedikit saja mereka melihat perempuan ini, semuanya jadi berubah.
Dia menikmati "efek cantik" ini sebagai hal yang biasa. Seperti dia biasa melupakan apa yang membuatnya sedih semalam.
Sesampainya di kantor, dia melihat ada sahabatnya, perempuan yang lain, sedang bersedih. Apakah seperti dirinya semalam? Entah. Sebab perempuan ini sudah melupakan kesedihannya semalam.
Dia menenangkan sahabatnya, dengan pelukan dan berkata, "Sudahlah, jangan bersedih. Sekarang kita sedang bekerja. Katakan, apa yang membuatmu bersedih. Mungkin aku bisa meringankan bebanmu."
Sahabatnya tidak menjawab.
Dia tidak mendesak.
Namun senyum dan diamnya, bisa membuat segalanya menjadi lebih baik. Apa yang dia lupakan semalam, baru teringat kini. Tidak baik mendiamkan pembicaraan yang sedang terjadi, perhatian yang diberikan.
Kadang kita menganggap segala sesuatu berjalan alami, padahal di sana, perasaan orang berkecamuk. Bertanya sesekali harus memberanikan diri, menata kalimat, agar yang hendak diajak bicara tidak tersinggung nanti.
Manusia memperoleh sifat pelupa, yang baik untuk beberapa hal. Namun bukan untuk diandalkan. Kejadian, bukan pula untuk dilupakan. Namun sapa seorang teman, sahabat, atau kekasih yang ingin mengajakmu bicara, tidak bisa diabaikan begitu saja.
Perempuan ini akhirnya bekerja lagi, dengan sahabatnya yang masih bersedih. Masih dengan senyum. Senyum yang tidak menyelesaikan masalah, namun membuat orang lain terdorong untuk berpikir positif dalam menyelesaikan masalah.
Tidak ada yang mengerti masalah perempuan itu. Tidak pula sahabatnya. Semoga dia bisa mengatasinya.
Jangan bersedih,, nanti kau terjebak dalam cermin. Masihkah kau percaya pada seseorang yang bisa kau jadikan cermin atas apa yang kau lakukan? Mungkin dia menunggumu, dengan segala keterbatasan waktu. Senyum adalah cermin terbalik kesedihan.

2:15 PM 8/4/2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda bisa berkomentar tanpa perlu login.

 
Day Milovich (c) 2013. Diberdayakan oleh Blogger.