Sabtu, November 05, 2011

Perubahan Sistemik dalam Film V for Vendetta

Penulis Day Milovich | Sabtu, November 05, 2011 | 09.56.00 |



"Apakah kamu berpikiran untuk membunuhku? Tidak ada daging ataupun darah di balik jubah ini untuk kau bunuh. Hanya ada gagasan. Gagasan itu tidak-mempan peluru."
[V dalam "V for Vendetta", karya Allen Moore and David Lloyd]


Pembalasan adalah "emosi" kunci dan "obsesi" dalam "the Count of Monte Cristo" dan "V for Vendetta". Dante dalam "the Count of Monte Cristo", mencari siapa "orang-orang" yang memenjara dirinya, sedangkan "V for Vendetta", V ingin mengalahkan "sistem" agar kekuasaan bisa dijatuhkan, bukan direbut. "Kekerasan bisa digunakan untuk kebaikan. Pembalasan sangat baik kalau disajikan dalam keadaan "dingin". Ini mirip ajaran Gandhi yang masih membolehkan "kekerasan", meskipun dia terkenal dengan ajaran "ahimsa".
Film ini ditampilkan dengan visual hitam-putih, kecuali pada warna bunga mawar dan api. Musik juga digarap dengan bagus, lihat saja saat dia memutar musik cresscendo ketika gedung Parlemen dan Lady Justice diledakkan. Ending film ini juga memainkan "Street Fighting Man"-nya Rolling Stones, serta "Violence in Self-Defense" dari Malcolm-X. V memperjuangkan keterbukaan, keadilan, dan kebebesan untuk Inggris, Anda pasti mengerti, mengapa Inggris selalu penuh cerita kepahlawanan sejak dulu. Romantika Evey dan V terjalin halus sekali, berbeda dari versi komik yang menampilkan payudara Evey saat kehujanan dan "lulus" dari ujian V, maka hubungan mereka ditampilkan bukan lagi percintaan dua kekasih yang menggagalkan tujuan penggulingan kekuasaan. V mengatakan, betapa dia menanti seseorang yang akan meneruskan perjuangannya. Di akhir film, Evey-lah yang memenuhi rancangan V untuk mengantarkan kematian V, bersama ledakan yang telah dia siapkan.
Meskipun suasana Inggris yang tak-adil dan korup (rusak) ditampilkan dengan penceritaan fakta-fakta bawah tanah (sensor buku, musik, kebohongan televisi BTN, dan data korupsi dari Chancellor Adam Sutler, Mc Creedy, dan sejumlah pejabat pemerintah), film ini terjebak pada alur "siapa melawan siapa" (who fights whom). Aksi V lebih tepat menjadi terorisme pop, paranoia bawah-tanah, dan romantisme komikal (bukan lagi chemical), dan menggaris-bawahi sebuah kalimat menyebalkan: begitulah dunia kita sekarang.
Film ini digarap sebagus komiknya, walaupun kepuasan seorang pecandu komik tidak akan pernah mau membandingkan film dengan komiknya. Sebab komik lebih fantastis, lebih abstract, dan gagasan komik tidak memiliki darah dan daging. Komik tidak mempan peluru. Komik (dan film) "V for Vendetta" adalah hadiah terbaik untuk pengarangnya, bukan sebaliknya.

Semarang, 2011

1 komentar:

Anda bisa berkomentar tanpa perlu login.

 
Day Milovich (c) 2013. Diberdayakan oleh Blogger.