Sabtu, November 05, 2011

Pertemuan dalam Ungkapan

Penulis Day Milovich | Sabtu, November 05, 2011 | 10.40.00 |



Dia mengajak saya bertemu di sebuah cafe, tujuh kilometer dari tempatku tinggal. "Aku hanya singgah ke kotamu, di sudut biasa, dengan parfum yang akan kamu kenali." Aku telah sampai, melihat seorang perempuan sedang duduk sendirian. Aku memesan kopi kepada waitress, duduk di depannya, lantas menghisap rokok. Di antara asap, dia kelihatan tersenyum.
Tidak ada basa-basi. Dia berucap langsung seperti biasanya, "Kau tahu mengapa aku sering berkeliling ke mana-mana?"
Aku diam, tidak akan menjawab pertanyaan itu.
Dia menjawabnya sendiri,
"Dunia membutuhkan ungkapan. Tanpa itu semuanya tidak bisa berjalan. Kamu tidak bisa memaksa orang untuk selalu berpikir. Hampir semua orang tahu, kalau api itu membakar, tetap saja di sini dituliskan: No Fire, jangan menyalakan api. Tanpa ungkapan, tidak ada iklan, tidak ada orang tawar-menawar, tidak ada orang tertipu, juga tidak akan ada orang menyayangi.
Kau tahu, bukan? Ungkapan.
Orang tidak bisa kau buat pintar dengan mengajak mereka terus berpikir. Kamu tidak bisa ungkapkan kata kerja pikiran."
Dahiku berkerut, dia menghisap rokoknya lagi. Aku belum mengerti, ke mana arah pembicaraan ini.

"Kata kerja pikiran. Seperti: merindukan, bersabar, menyesal, berusaha keras, mencintai, itu semua contoh kata kerja pikiran. Kalau semua itu kamu ungkapkan, kepala orang akan berputar-putar. Entah karena pusing membayangkan kata kerja pikiran itu, atau mereka melayang menikmati indahnya. Kau tahu apa yang sedang aku bicarakan?"


Dahiku berkerut lagi, dia mematikan rokoknya.
"Buka ponselku, lihat ada berapa sms dan puisi yang aku simpan. Aku menyukainya pesan-pesan, catatan, dan puisi itu. Persetan dengan segala macam teori. Itu dari orang-orang yang katanya mencintaiku."
Aku menggeleng, tak mau membacanya.
Dia membuka dan membaca, sambil tersenyum-senyum.
"Setiap hari aku merindukanmu. Aku sangat menginginkanmu. Bla bla bla.
Kamu tahu, aku membutuhkan ungkapan seperti ini. Entah keluar dari perasaan macam apapun itu. Kalau kamu mencintai, tidak ada lagi syarat. Nalurimu akan menikmatinya. Seorang manusia, mengirimkan kata-kata itu, dia gunakan, atau dia mainkan kata-kata yang biasa digunakan untuk menyampaikan perasaan. Tidak soal aku menerimanya atau tidak, reaksi mereka spontan dan jelas.
Lihat orang-orang yang tersenyum spontan. Bukan menampar tetapi selalu memaksa untuk diakui kalau dia mencintai kamu.
Kalau kekasihmu bilang rindu, mau kau berpikir dulu? Atau kamu jawab dengan perbuatan? No!
Aku sedang bicara tentang ungkapan.
Atau kamu akan membaliknya dengan pertanyaan, "Bukankah kemarin sudah aku jawab?". Terlalu kejam. Apalagi jika kamu berjauhan."
Dia diam. Tidak ada asap rokok. Tidak ada musik mengalun. Dia menangis.

"Aku ingin menikmati hidupku. Tidak peduli ungkapan puisimu itu bagus atau tidak, aku hanya membayangkan, ada seseorang yang akan mengatakannya kepadaku. Sampai sekarang, tak ada yang mengatakan kepadaku. Dunia butuh ungkapan, kau tahu itu. Pada saat yang tepat, dengan keindahan yang memikat. Karena ungkapan adalah ungkapan."


Aku menyandarkan punggung, setengah rebah. Bernafas lega. Jadi itulah masalahnya: dia membutuhkan ungkapan spontan dari seseorang yang menyayanginya. Kata. Kata yang selama ini dibandingkan dengan perbuatan, seolah-olah kata dan perbuatan saling bermusuhan. Dia hanya butuh ungkapan.
---
Aku membutuhkan pula ungkapannya. Dia seperti membaca pikiranku. Dia bilang kepadaku, "Aku selalu membuka dindingmu, melihat foto, membaca status dan puisimu. Sekarang puisi-puisi itu bisa diakses dan dijempol semua orang. Aku tidak tahu, untuk siapa puisi-puisi itu, tidak peduli. Aku suka kamu sudah mengungkapkan kepada semua orang. Tidak suka orangnya."
Kami berdua tertawa.
---
1:24 PM 10/14/2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda bisa berkomentar tanpa perlu login.

 
Day Milovich (c) 2013. Diberdayakan oleh Blogger.