Sabtu, November 05, 2011

Perjalanan tanpa Cermin

Penulis Day Milovich | Sabtu, November 05, 2011 | 15.31.00 |



Pada zaman dahulu kala,,
Keduanya sudah bersepakat, saling mencintai. Cerita klasik, sepertinya demikian di awal mula.
Mengapa mereka saling cinta, sepertinya sudah tidak ada alasan dan penjelasan lagi. Ada banyak rahasia yang tidak bisa diceritakan, ada rasa di antara ratusan kejadian, sebagian tertulis di buku harian, lainnya yang tak terlupakan. Singkatnya, ada yang harus mereka lakukan: perjalanan hidup.
Lelaki itu berkata kepada perempuannya, "Jalan kita masih jauh, Sayang. Setelah ini kau dan aku akan bergandengan, melangkah ke depan. Ada banyak raksasa, pemalak, hewan buas, dan hutan larangan yang akan kita lewati."
Perempuannya mengangguk. Keduanya menyiapkan pakaian, yang terbuat dari bahan yang kuat, awet. serta bisa dipakai untuk segala suasana. Perbekalan disiapkan.
Semua orang yang melambai saat mereka berangkat, memberikan perbekalan secukupnya pula. Ada uang, ada sepatu, namun satu yang tidak ada: cermin. Pasangan itu tidak membawa cermin.
Sepanjang perjalanan, mereka melewati banyang halangan, tantangan, dan rintangan.
Saat menyeberang laut, mereka menghadapi gelombang pasang. Wajah mereka diterpa gelombang sampai compang-camping, diterpa panas, dan ganasnya ikan-ikan pemangsa. Mereka selamat. Mereka tidak sempat berganti pakaian.
Keduanya berjalan lagi, bertemu harimau. Cakaran dan terjangan harimau ini, membuat keduanya tidak sempat memperbaiki pakaian. Tidak sempat melihat perbekalan.
Mereka selamat. Perjalanan harus berlanjut. Tak sempat istirahat.
Sampailah akhirnya mereka di hutan larangan, yang masih terlindung dari telapak kaki manusia. Hanya orang-orang nekad dan pemberani yang bisa melewati hutan larangan itu. Namun, hutan itu harus dilewati setiap pasangan yang akan meneruskan perjalanan mereka hingga ujung pulau. Hutan yang harus dihadapi.
Di hutan ini, kejadian lebih mengerikan lagi. Setiap memasuki sisi gelap, mereka dibawa pada gelapnya malam, Tak bisa memandang lengan sendiri, tak bisa melihat sekeliling, hanya bisa merasakan detak jantung, langkah kaki, dan tangan kekasihnya. Gelap itu membawa mereka pada malam. Segala malam di masa lalu, datang lagi. Segala bisik, mengusik mereka untuk kembali saja pada masa lalu yang penuh mimpi. Saat berada di sisi terang, mereka dibawa pada kecemasan. Penampakan yang tak usai menakuti mereka, tentang pohon berbuah kepala-kepala manusia, yang menjerit, memekikkan kutukan, meminta mereka kembali, dan menganga lapar. Pohon-pohon yang berdenyut, batangnya bagai lilitan ular-ular yang masih hidup. Terang yang mengerikan, seperti di tengah perang.
Pasangan itu bisa melewati. Hutan itu terlewatkan sudah dengan perjuangan yang memeras semua lelah. Mereka sampai di ujung. Hampir saja, memasuki pintu pulau yang selama ini diceritakan semua orang. Ada sempat untuk istirahat, sebelum pintu itu dibuka.
Perbekalan dibuka. Betapa terkejutnya mereka, menyaksikan wajah yang ada di depannya telah berubah.
Lelaki itu berkata, "Siapa kau? Sepertinya aku mengenalmu. Mengapa pakaianmu compang-camping? Kulitmu menghitam, tampaknya kamu kelelahan." Dia tidak ingat, siapa orang yang ada di depannya. Sebab di sekitar pasangan itu, ternyata, ada ribuan bahkan jutaan, bahkan milayaran orang yang menunggu pintu itu terbuka.
Perempuannya juga keheranan, seperti melihat orang asing, "Kau sendiri siapa? Kau datang dengan siapa?"

Keduanya tidak lagi saling kenal, setelah perjalanan merubah segalanya. Yang tadinya cantik, menjadi menua. Yang tadinya selalu senyum bahagia, menjadi wajah yang menahan derita. Di samping mereka ada telaga, tetapi masing-masing memilih menunggu saja, sampai pintu terbuka. Mereka ingin menerobos pintu itu, sebelum penunggu yang lainnya, memasuki pintu itu.


Cermin yang tidak pernah mereka bawa, benar-benar tidak tergantikan. Kelelahan menghadapi derita telah membuat keduanya tidak ingin membasuh wajah kekasihnya, merawatnya di saat semakin tua, di antara orang lain yang sama sekali tak mengenal kedua kekasih itu. Mereka menunggu, mereka terasing, di depan kekasihnya sendiri. Begitu lelah, begitu pasrah, menghadapi pintu yang belum terbuka dan seribu masa lalu yang dulu dihadapi bersama.
Keduanya masih saling-pandang. Asing, terasing. Menyentuh, menarik-diri. Membimbing ingatan masing-masing, tidak saling-percaya. Sementara mereka harus berjalan bersama. Melewati pintu itu. Pintu yang terbuat dari batu dan waktu.
Mereka dilarang membawa cermin sampai akhirnya melupakan cermin. Telaga jernih di tengah perjalanan, kenapa dibiarkan saja. Kekasih yang selalu memandangnya, tak pernah ditanyai, seperti apa wajahnya sekarang. Tiada lagi tempat bercermin. Sampai akhirnya menjadi [ter]asing terhadap wajah Sang Kekasih sendiri.
---
Day 5:03 AM 9/13/2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda bisa berkomentar tanpa perlu login.

 
Day Milovich (c) 2013. Diberdayakan oleh Blogger.