Sabtu, November 05, 2011

Masa Lalu tidak Pernah Menua

Penulis Day Milovich | Sabtu, November 05, 2011 | 09.56.00 |



Masa Lalu tidak Pernah Menua

Malam itu aku hanya menemani kawanku untuk bertemu temannya. Kawanku bilang, temannya ini memiliki bahasa yang se-level dengannya. Bisa diajak bicara tentang konspirasi politik, filsafat, sastra, dan segala macam seni yang penuh krisis. Aku hanya menemani.
Kami bertiga bertemu, melewati basa-basi standar seperti yang disebut di buku-buku manual itu: asli mana, punya facebook atau tidak, kenal dengan mas ini dan mbak itu, ya semacam begitulah. Singkat cerita, temannya kawanku itu meluapkan kegembiraannya.
Mereka bicara tentang Indonesia yang butuh figur, teori konspirasi, gerakan sastra di kota-kota, dan bagaimana sepak terjang kedua orang yang ada di depanku itu diluapkan. Seperti lautan yang mengikis daratan.
Aku memilih menonton televisi sambil sesekali membuka facebook dari ponsel. Sebenarnya ada tayangan TV5MONDE dan BBC Knowledge yang bagus. Namun aku sengaja memutar acara lokal. Sinetron yang penuh iklan, dengan acting plastis, dengan cerita bombas, menggambarkan kehidupan secara hitam putih. Tidak nyata.
Aku ingin melihat reaksi dua orang ini. Keduanya protes, minta acara televisi diganti.
"Sekali waktu," kataku, "Kadang aku menonton acara televisi yang tidak aku minati."
Teman kawanku yang pintar ngomong itu mendesak, "Mengapa demikian?" sementara kawanku sudah mengambil-alih remote dan memindah ke film.
Tiba-tiba, datanglah seorang temanku lagi ke kafe itu, anggap saja dia bernama Joker. Sudah hampir 10 tahun dia di dunia tulis menulis, namun tidak banyak dikenal wajah aslinya. Dia tipikal "Paman yang tidak pernah disebut" dalam sastra Indonesia. Dia memesan kopi, menuangnya, lalu menyulut rokok. Melepas lelah. Seperti tidak mengenalku.
Joker bilang, "Acaranya akan dimulai pertengahan bulan". Lantas dia menjelaskan sebuah acara dengan detail sekali, bagaimana mengantisipasi permasalahan yang sekiranya akan muncul. Aku hanya mengangguk sesekali dan menerima tugasku. Tidak ada lima menit, seperti rapat para mafia.
Kawanku dan Temannya tentu ikut menyimak, boleh saja mengaitkan perbincangan kami ke persoalan politik kebudayaan atau sastra atau apa saja. Event tetaplah event. Belum lagi mereka mengajak berkenalan, Joker sudah mengenalkan diri.
Joker bilang begini, "Aku bosan dengan pekerjaanku, tetapi aku harus melakukannya. Setiap hari aku melihat orang korupsi. Aku wawancarai mereka, namun dalam hati sangat membenci mereka. Setiap aku beritakan, orang-orang di sekitarnya ikut terancam. Secara pidana ataupun secara sosial. Aku sudah tidak bisa menikmati film, karena aku tahu bagaimana membuat film. Hanya persoalannya, aku harus menulis itu."
Aku hanya menimpali, "Lantas bagaimana rasanya, orang yang mengerti tentang korupsi dan kejahatan di kota ini, harus mengadakan event seni yang kelihatannya berseberangan dan dianggap tidak efisien itu? Setiap membuat acara, selalu ada yang mencibir dan bergumam: gerakan ini mau ke mana?"
Kami berdua tertawa sinis, mungkin menertawakan diri sendiri.
Sebagian orang, hanya mengolah informasi yang mereka baca, tanpa mengerti ada apa di balik informasi itu. Mereka memainkan logika dan memutuskan. Sosiologi dijadikan science. Agama dirasionalkan. Sejarah menjadi kajian tentang pengandaian.
Sebagian orang, hanya menunggu keadaaan berubah. Sebagian orang, merasa menjadi aktor. Sebagian orang, menjadi ronin, samurai tanpa tuan. Di kesenian, di gerakan politik, di kemanusiaan, menjadi schizophrenic secara sosial.
Sebagian orang, merasakannya setiap hari, memutuskan jalan hidupnya demi orang lain, demi susu anaknya, demi masih memegangi ideologi yang dia jalani. Tidak peduli siapa di sampingnya, tidak peduli pakaian dan agama mereka. Tidak peduli tontonan apa yang mereka sukai. Tidak peduli apa bajunya. Seperti Joker. Beginilah gotham yang harus dikenalkan dengan gagasan perubahan identitas, memancing Batman-batman baru agar tidak terlahir buta di goa-goa penyepian mereka. Gotham yang rusak (corrupt).
Lantas aku dan Joker tidak peduli lagi, televisi mau dipegang siapa, perbincangan mau ke mana. Kami menikmati kopi dan rokok murahan, membicarakan detail teknis atas apa-apa yang kami lakukan. Melompat ke sana ke mari, mengingat masa kecil pula.
Kawanku dan Temannya masih terdiam.
Mereka tidak mengerti, mengapa Joker menceritakan angka korupsi dan hasil wawancara yang belum dia tuliskan itu. Mengapa dia suka komik dan berfantasi tentang masa kecil denganku. Tidak ada pola. Adanya pertidaksamaan linier yang penuh variabel.
Masa lalu memang tak pernah menua. Dan masa lalu dalam pikiran, sungguh tak pernah menua. Jika masa lalu itu buruk, alangkah bugarnya. Jika masa lalu itu berwujud perempuan, alangkah awet mudanya. Sebagian orang, tak bisa melepasnya.
Pada masyarakat yang sudah schizophrenic, ada begitu banyak hantu bertebaran yang mengajaknya berbicara. Semua itu datang dari kepala. Hantu itu tidak pergi meski diusir ribuan kali. Hantu yang justru bersemayam saat kita mencoba terpejam ingin melupakan.
Sebagian orang, tidak mengerti detail, mereka hanya memihak. Sebagian orang, tidak mau mengerti banyak, mereka hanya mengumpat ribuan kali. Sebagian orang, hanya memilih apapun yang mereka sukai, dan membuang apa yang mereka benci. Lantas tiba-tiba, empati terkikis, hanya mencari teman yang sepadan dan bisa diajak bicara. Melarikan diri dari masalah yang sesungguhnya. Semoga hanya sebagian orang saja.
---
9:01 PM 9/26/2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda bisa berkomentar tanpa perlu login.

 
Day Milovich (c) 2013. Diberdayakan oleh Blogger.