Sabtu, November 05, 2011

"Kecantikan itu Obyektif" dan Mengapa Pernyataan ini Disalahkan?

Penulis Day Milovich | Sabtu, November 05, 2011 | 09.43.00 |



"Kecantikan itu Obyektif" dan Mengapa Pernyataan ini Disalahkan?

Saya pernah bertemu seorang perempuan yang sangat cantik. Kulitnya putih, pipinya agak kemerahan jika sedang malu, matanya cokelat mengkilat, dan suaranya tenang. Terlalu banyak "seperti" dan "seandainya". Deskripsi yang tidak pernah selesai dalam kata dan ungkapan. Banyak sekali jenis perempuan seperti ini di majalah ataupun televisi. Anda pasti sudah sering melihat dan berjumpa, mungkin dalam mimpi.
Singkat cerita, saya ceritakan kecantikan perempuan itu kepada teman saya. Tentu saja, kawan saya melakukan penolakan perseptual.
Penolakan, adalah salah satu reaksi yang paling mudah diprediksi.
Saya bilang, "Perempuan ini sangat cantik.". Teman saya menukas, "Itu menurutmu. Kecantikan itu relatif. Tidak ada kecantikan yang obyektif."
Benarkah demikian?
Saya mulai berpikir, betapa banyak orang menolak pernyataan "kecantikan itu obyektif". Mereka memilih berkata, "Kecantikan itu subyektif dan relatif." Subyektif, berarti tergantung siapa yang menilai. Relatif, karena tidak ada kecantikan yang absolut. Tidak ada "cantik" yang diakui oleh semua orang. Mungkin demikian maksudnya. Kedua pengertian ini benar, namun, mengapa menyalahkan pernyataan saya bahwa "kecantikan itu obyektif?"
Untuk mengenal obyek, maka sebaiknya kita membiarkan obyek itu menyingkapkan diri. Saya menunda "pengertian" ataupun "kesimpulan sementara" tentang ukuran cantik.
Misalnya, ketika saya melihat "realitas" bernama Angelina Jolie, maka saya mengenalnya dari bermacam-macam perspektif. Saya membongkarnya. Saya perlu melihat bagaimana tonal kulitnya tampil secara berbeda-beda di foto, acting dia di film, dst. Angelina Jolie menjadi Angelina Jolie yang terbongkar, dipersepsikan, diterima dari beragam sudut, dan tentu saja pengertian yang saya dapatkan akan lain dari apresiasi orang lain.

Persoalannya, saat Angelina Jolie memasuki percakapan antara saya dan teman saya, tentu akan ada ukuran-ukuran yang muncul: kamu suka Angelina Jolie karena apa-nya? saat dia bagaimana? dan dengan apa kamu melihatnya? Tanpa ukuran-ukuran ini, tidak akan ada pembicaraan untuk "mengenal" realitas bernama Angelina Jolie. Angelina Jolie tidak akan pernah selesai dikenali. Sebab obyek selalu menampakkan diri dalam ruang dan waktu yang berbeda. Angelina Jolie selalu terbentuk secara sosial, melewati ukuran-ukuran yang terus dipertanyakan. Itulah pengertian obyektif.


Jadi alangkah lucunya jika saya bilang, "Kecantikan itu obyektif" ditolak sama sekali oleh semua orang. Semua hal yang dikenal itu pastilah "obyektif", muncul sebagai obyek yang terus menampakkan diri. Dan memang tidak pernah sama. Ada ruang, ada waktu, ada "siapa", ada "bagaimana".
Angelina Jolie yang cantik 10 menit yang lalu, dalam sebuah wallpaper, mungkin sama sekali tidak cantik bagi saya ketika saya sedang menonton Meg Ryan di televisi. Obyek selalu tidak terlepas dari historisitas dan penerapan nilai. Tidak ada "cantik" (atau apapun) yang intrinsik. Termasuk "keadilan", "kebenaran", dst. Semuanya menggunakan nilai yang dibentuk, bukan "ada dengan sendirinya".

Kalau kemudian, mereka yang bilang "kecantikan itu subyektif", di mana baru-nya pernyataan ini? Atau mereka yang bilang, "kecantikan itu relatif", saya pikir semua orang sudah tahu itu. Yang tidak mereka tahu adalah: pengertian "obyektif" yang disalahkan. Sayangnya,, sampai sekarang saya belum menemukan literatur yang mengatakan, bahwa pengertian subyektif dan relatif itu lebih tepat digunakan untuk melihat segala sesuatu.
Harap dibedakan, antara "kebenaran itu relatif" dengan "kebenaran itu obyektif". Saya lebih memilih "kebenaran itu obyektif". Orang yang bilang "tidak ada kebenaran absolut", itu belum tuntas membaca Kuhn, Horkheimmer, Nietzsche, Popper, Barthes, dan Heidegger. Saya bangga mengutip pemikiran yang memiliki dasar, daripada memakai pengertian kata atau terminologi hanya berdasarkan kamus, tradisi lisan, atau pengertian sendiri yang ternyata sudah ada di buku.
Atau mungkin Anda punya alasan lain?
---
Quote:
"Mereka yang berkiblat pengetahuan, tidak menggunakan Barat atau Timur dalam tindakan" [Day Milovich]
---
4:48 PM 9/26/2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda bisa berkomentar tanpa perlu login.

 
Day Milovich (c) 2013. Diberdayakan oleh Blogger.