Sabtu, November 05, 2011

Bekal Terbaik untuk Murid Ketiga

Penulis Day Milovich | Sabtu, November 05, 2011 | 08.28.00 |



Bekal Terbaik untuk Murid Ketiga

Pada zaman dahulu kala,,
Dalam sebuah kitab yang-tak-boleh-disebut, diceritakan ....
Pada suatu hari, seorang Guru memberikan hadiah kepada para muridnya. Masing-masing murid akan mendapatkan satu hadiah.
Muridnya keheranan, dan terjadilah rentetan pertanyaan di antara mereka.
"Guru, mengapa kau memberikan hampir semua milik terbaikmu kepada kami?" tanya Murid Pertama.
"Langit menyebutkan, kau tidak akan mati sampai sekian ratus generasi mendatang, mengapa kau seperti hendak berpamitan?" tanya Murid Kedua.
"Apa pelajaran yang hendak kau berikan, Guru?" tanya Murid Ketiga.
Sang Guru tersenyum, "Warisan ataupun bukan, itu soal bagaimana kamu menjaga dan memperlakukan. Kalau saja sekarang ini aku berpisah dari kalian, tentu kalian akan disibukkan dengan menjelaskan dan menjelaskan kepergianku. Sekarang aku akan berikan benda-benda ini sesuai dengan apa yang telah kalian pelajari."
Tiga muridnya menunggu dengan cemas. Murid yang ketiga tidak terlalu cemas.
Sang Guru mengeluarkan pedangnya, "Ini untukmu, Murid Pertamaku. Pedang ini bisa membuatmu memenangkan segala pertempuran. Hanya dengan memegangnya, kau akan mendapatkan kekuatan. Tidak akan ada yang bisa melawanmu dalam pertempuran. Hanya denga menyebut nama pedangnya saja, lawanmu akan gentar dan menyerah. Bahkan jika tidak sedang kau pegang, maka jejak tanganku di pedang itu, akan mengalahkan semua lawanmu."
Murid Pertama, gembira menerimanya.
Murid yang kedua, menerima sekotak buku, "semua kitabku ada di sini. Kitab pemberian gurunya gurunya guruku, tulisan tanganku, semua rahasia kehidupan ada di sini. Tidak ada yang rahasia lagi bagimu, jika seluruh kitab ini kau kuak khazanahnya. Terimalah."
Murid Kedua, gembira menerima.
Murid Pertama dan kedua, saling pandang. Apa kira-kira yang akan diberikan kepada Murid Ketiga? Sang Guru menuntun seekor keledai miliknya. Keledai yang masih sangat baru. Sang Guru membiarkan keledai itu lepas.
Sang Guru bilang, "Keledai itu bisa kau perintahkan menuju ke mana saja. Tidak butuh makanan dan tidak pernah melawan kehendakmu."

Ternyata keledai itu berjalan mundur. Semua orang yang melihat, keheranan. Untuk apa keledai yang berjalan mundur.
Sang Guru berkata, "Muridku yang ketiga, kau yang akan menerima warisanku ini. Kau telah tuntas juga menerima seluruh pelajaran dariku."


Melihat apa yang diberikan sang Guru, Murid Ketiga berterima kasih, bersujud pada Gurunya.
Lantas tertawa berguling-guling di lantai, sampai keluar air matanya, sampai bajunya penuh debu. Melihat hal ini, sang Guru tertawa dan memeluk Murid Ketiga dengan erat sekali. Sang Guru menangis.
Sang Guru berlalu dan meninggalkan mereka bertiga.
Tak lama kemudian, Murid Pertama dan Murid Kedua, bertanya kepada Murid Ketiga.
"Sebenarnya, apa yang tadi kalian tertawakan?" tanya Murid Pertama.
"Aku juga ingin mengerti, mengapa beliau membawakan keledai yang berjalan mundur untukmu. Dan mengapa kamu tertawa seperti senang sekali?"
Murid Ketiga meredam tawanya sendiri. Sedikit terengah-engah. Dia bilang kepada kedua temannya, "di tengah pelukan itu, sang Guru berbisik kepadaku."
"Apa katanya?" kata Murid Pertama.
"Iya, apa katanya?" desak Murid Kedua.
"Jangan lupa menggunakan akalmu agar keledai yang berjalan mundur itu berfungsi sebagai kendaraan. Jangan bergantung pada benda, jangan pula pada apa yang kamu baca. Kalau nanti kamu mengembara menuntut ilmu selain di pertapaan ini, jangan lupa upload semua fotomu. Dan tandai aku."
---
image: http://tumblr_lp0c9dqCyo1qz6f9yo1_500.jpg
teks: day milovich,,
---
:))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda bisa berkomentar tanpa perlu login.

 
Day Milovich (c) 2013. Diberdayakan oleh Blogger.