Sabtu, November 05, 2011

Adzan Isya' yang Selalu Terlambat

Penulis Day Milovich | Sabtu, November 05, 2011 | 08.19.00 |



Adzan Isya' yang Selalu Terlambat

Pada zaman dahulu kala,,
Hiduplah seorang ibu dan anaknya yang masih berumur tiga setengah tahun. Setiap sholat, dia selalu "diganggu" oleh aktivitas anaknya. Kadang saat takbir, anaknya mengajak berbicara, memanggil, dan menangis jika tidak dijawab. Kalau sedang duduk tahiyyat sebelum salam, telunjuknya ditarik anaknya, digoyang ke sana ke mari, lalu dikembalikan lagi ke posisi semula. Setiap selesai sholat, ibu itu berdoa. Anaknya selalu memperhatikan.
Anaknya belum tahu apa itu berdoa, apa itu sholat. Dia hanya mengerti, pada saat-saat tertentu ibunya pasti sholat.
Setiap mendapatkan pertanyaan yang sukar tentang agama, ibunya tidak bisa menjawab. Anaknya bertanya tentang mengapa orang mati, mengapa matahari hilang dan muncul lagi, mengapa bayangannya tidak sama dengan ibunya sewaktu mereka bercermin, mengapa ibu mengucapkan kata-kata yang tidak dia mengerti selama sholat, dan masih banyak lagi.
Menunda untuk tidak menjawab pertanyaan si kecil, sepertinya sebuah siksaan. Mau dijelaskan, mungkin belum saatnya. Kalau dijelaskan sesuai dengan "bahasa" anak kecil, tidak semua ibu bisa menjelaskannya. Akhirnya sang Ibu menyerahkan pendidikan agama itu kepada sekolah madrasah.

Anaknya datang dengan "bahasa" yang lebih tidak dimengerti ibunya, sebab sang ibu hanya mengerti sebatas bacaan sholat, niat puasa, dan kewajiban-kewajiban standard.


Dia tidak bisa membaca al-Qur'an, tetapi si anak seiring perkembangan usia, menjadi lebih pintar daripada ibunya. Dia sudah mengerti perbedaan haidh (menstruasi) dan istihadhah. Mengerti mengapa seorang perempuan memiliki anak. Menghafal beberapa surat dalam al-Qur'an.
Sampai besar, sang Ibu selalu ingat, bagaimana dulu anaknya selalu "mengganggu" selama sholat.
Sekarang, sang anak selalu rajin ke musholla. Saat sholat di musholla, si anak tadi (yang sekarang sudah berumur 24 tahun) sering mendapat "gangguan" dari anak-anak kecil yang sering teriak-teriak di musholla. Ada yang berlarian, ada yang menirukan orang sujud, ada pula yang tiba-tiba menangis. Dia tidak marah menghadapi gangguan seperti itu. Musholla masih saja riuh dengan anak-anak kecil yang hanya ikut datang, mengaji, belum tahu banyak kegunaan apa yang sedang mereka pelajari.

Musholla itu bahkan selalu mengumandangkan adzan isya' jam delapan malam, kadang jam delapan seperempat, karena, setelah maghrib selalu ada orang-orang yang mengaji kitab di sana. Tidak ada penduduk yang protes dengan keterlambatan adzan isya' di musholla itu, karena orang yang mengajarkan mengaji di sana, selalu teringat, bagaimana dulu saat dia masih di bawah lima tahun, sering mengganggu ibunya.


Ibunya yang sampai sekarang rajin sholat dan membawanya pada pendidikan agama yang lebih baik. Setiap selesai mengaji pula, guru mengaji ini selalu berdoa, semoga dosa kedua orang tuanya diampuni, dan mendapatkan pahala dari ilmu yang telah diajarkan. Sampai sekarang pula, dia selalu menceritakan, betapa keterlambatan adzan isya' yang sudah berakar sejak puluhan tahun di kampungnya, telah menjadi salah satu tanda, adanya orang-orang yang masih mengaji. Serta beberapa orang yang setia mendengarkan di luar musholla, sampai yang mengaji dan tidak ikut mengaji, bisa berjama'ah bersama. :))

Pernahkah kamu mengganggu ibumu sholat? Apa yang kamu kenang saat mengaji tentang kedua orang tuamu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda bisa berkomentar tanpa perlu login.

 
Day Milovich (c) 2013. Diberdayakan oleh Blogger.