Senin, Agustus 22, 2011

Pertanyaan tentang Lailatul Qadr

Penulis Day Milovich | Senin, Agustus 22, 2011 | 12.02.00 |



Pertanyaan tentang Lailatul Qadr

Adakah dalil dalam sunnah yang menyebutkan bahwa ayat pertama al-Qur'an diturunkan pada malam 17 Ramadhan? Tentu saja tidak ada.


Angka ini menjadi populer ketika beberapa angka 17 dikaitkan dengan jumlah raka'at shalat wajib dan proklamasi 17 Agustus. Kalau Anda cari di Google, ada pidato Ir. Soekarno dan pendapat HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) yang mempengaruhi memori kolektif umat Islam di Indonesia.
Silakan cari video dan .mp3 atau teksnya di Google. Atau mungkin Anda punya referensi lain, silakan share di sini. Yang jelas, tidak ada dalil bahwa ayat pertama al-Qur'an itu diturunkan pada malam 17 Ramadhan.

Pada bulan Ramadhan, Nabi Muhammad saw. mengajak kaum muslimin untuk melakukan perang Uhud, perang dengan pedang dan darah sungguhan. Kalau di perang Badar yang lebih besar jumlah lawannya kaum muslimin bisa menang, maka di perang Uhud ini, kaum muslimin kalah. Mereka kalah perang di bulan yang dimuliakan.

Mereka kemudian menyadari perang yang lebih besar daripada perang Badar adalah perang melawan hawa nafsu. Pasti itu sangat berat, bukan? Tentu saja.
Jadi jangan mudah mereda kehendak untuk mengusut tuntas suatu korupsi di bulan Ramadhan hanya karena ingin menjadikan bulan ini sebagai bulan damai. Perkara korupsi tetaplah perkara hukum, menyangkut keadilan sosial dan kepentingan orang banyak, jangan dihentikan karena kedatangan Ramadhan.
Selama puasa, sebisa mungkin keadilan sosial dijunjung tinggi, jangan hanya berhenti pada amalan pribadi yang tidak mempedulikan bangunan sosial.

Keistimewaan bulan Ramadhan, salah satunya adalah, akan mengantar orang-orang yang beriman (kepada siapa perintah puasa diberikan) pada harapan untuk menemui malam lailatul qadar. Pada malam itu, malaikat Jibril yang dikenal sebagai "ruh al-quds" (holy spirit) sekaligus "aql al-kulli" (akal universal) menjadi pengantar wahyu. Dia ini semacam "modem" (modulator demodulator) yang bisa mengubah "data" menjadi suara, dan suara kembali menjadi "data" sebagaimana aslinya. Tidak ada packet lost, tidak ada r.t.o. (request time out).

Kita lewati bagian ini.

Yang terpenting adalah saya akan mengajukan pertanyaan kepada para pembaca tentang malam lailatul qadar ini.
Seperti kita tahu, malam lailatul qadar punya banyak tanda baik.
Saya tidak persoalkan pembacaan tanda (ayat) dari al-Qur'an. Kalau ada yang "mengalami" malam ini, dengan sekian tanda yang meyakinkan, atau "cocok" dengan uraian hadits, bolehlah Anda meyakini.
Atau Anda sendiri mengalami laylatul qadr sendiri, tentu sangat baik.
Sekarang, marilah kita membuat asumsi: ada satu malam yang lailatul qadr.
Misalnya, malam itu adalah malam 21, biarlah saya singkat faktanya menjadi begini: "tetangga saya, yang rumahnya di Semarang Indonesia, mengalami malam lailatul qadr tahun ini."
Semarang itu punya zona waktu, yaitu GMT+07:00, selisih 4 jam dengan Istanbul, Turki. Itu berarti, kalau memang "malam ini" di Ngaliyan terjadi laylatul qadr, apakah di zona waktu (GMT+08:00) "akan" mengalami laylatul qadr juga?
Kalau tidak terjadi secara universal, kenapa yang disebut malam yang dimuliakan itu tidak terjadi secara universal (hanya dialami pribadi saja)? Kalau terjadi seperti yang saya gambarkan, persoalannya menjadi lebih rumit, yaitu: mungkinkah dalam satu malam, di "semua" belahan bumi, secara berurutan, mengalami malam laylatul qadr itu.
Masalahnya adalah, ketidakmungkinannya.
Kalau selama satu malam, di semua belahan bumi secara berurutan, mengalami kedamaian seperti itu: mungkinkah?
Tentu Anda bisa memperluas uraian tentang "damai"nya malam laylatul qadr, kemudian hubungkan dengan pertanyaan saya tadi.
Dunia dalam satu malam: malam tenang, tidak ada mendung, tidak ada hujan, matahari pada keesokan paginya tidak terlalu panas, dst. Daftarnya silakan diteruskan. Tidak perang, tidak ada ketidakadilan, alam begitu damai.
Pertanyaan saya adalah: jika laylatul qadr itu terjadi dalam satu malam di seluruh belahan dunia ini, secara berurutan, mungkinkah terjadi dunia yang damai dan tenang dalam satu malam?
---
Jadi pendapat Anda adalah ....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda bisa berkomentar tanpa perlu login.

 
Day Milovich (c) 2013. Diberdayakan oleh Blogger.