Sabtu, Juli 23, 2011

Mengapa [Harus] Menggunakan Identitas Anonim di Facebook?

Penulis Day Milovich | Sabtu, Juli 23, 2011 | 13.33.00 |


Mengapa sebagian orang [harus] menggunakan identitas anonim di Facebook? Seperti apakah identitas Anda di Facebook?
---
"Setiap usaha untuk mengerti dan menjelaskan diriku, hanyalah tuduhan bagi diriku"
[Michel Foucault]
---
Knowledge can not replace friendship. I’d rather be an idiot than lose you.
Pengetahuan tidak bisa menggantikan persahabatan. Aku lebih suka menjadi orang bodoh daripada kehilangan dirimu ...
[Patrick kepada Sponge's Bob]
---
/* Apa Motivasi Anda Menggunakan Facebook? */
Seorang teman bertanya, "Apa motif kamu menggunakan facebook?". Saya menjawab, "For self-liberation". Memang, motivasi saya menggunakan facebook adalah untuk pembebasan-diri. Saya bekerja dengan facebook, bertemu teman-teman lama, mendapatkan kenalan baru, menampilkan karya, dan belajar apa saja yang bisa saya pelajari, dari facebook. Motif yang sangat konservatif. Itu sebabnya saya tidak pernah menganggap facebook itu tidak-nyata.

/* [Seandainya] Facebook bukan Dunia Maya */

Sebagian orang menganggap facebook adalah dunia maya, ranah yang dibedakan secara geografis maupun "mental" dari dunia nyata. Orang-orang yang "berpikir berdasarkan perbedaan" seperti ini, justru gagal memfungsikan facebook untuk untuk inspirasi berkarya, melatih kecerdasan, membangun mentalitas, dan interaksi sosial mereka.

Sebagian orang justru memasuki facebook untuk eskapisme kultural, mereka ingin membebaskan-diri dari dunia nyata, secara psikologis mereka tertekan dan terhambat geraknya, sehingga "terpaksa" dan atau "harus" melampiaskan-diri di facebook.

Beberapa teman saya mengungkapkan begini:
+ "Saya jenuh, saya ingin memakai facebook"
+ "Kemarin ada yang mencintai saya, semoga dengan yang ini saya bisa berhasil"
+ "Saya sudah membuat identitas baru, saya ingin comment di mantannya pacar saya"
et cetera

/* tentang [Pengertian] Identitas Anonim */

Mereka sering menggunakan identitas anonymous saat berinteraksi di jejaring sosial terbesar bernama facebook. Anonymous di sini berarti "menutupi-diri" dan menyamarkan-diri. Bukan "tidak dikenal". Kalau misalnya Anda beragama Islam tetapi menuliskan "Islam 200%" itu termasuk anonymous, sebab isian itu tidak ada di daftar pilihan "Agama", demikian juga jika sebenarnya Anda beralamat di Yogyakarta tetapi menuliskan Italy sebagai alamat tinggal.
Maksud "identitas" dalam tulisan ini bukan sekadar nick name, profile picture, dan isian di info profile. Anonymous juga bukan berarti tidak dikenal (unknown). Identitas itu bukan isian statistik, tidak harus jujur, namun selalu "socially constructed" (terbentuk secara sosial), dan selalu "das sollen" (sebagaimana adanya) bukan "das sein".
Identitas adalah "entitas ide", rumusan gagasan dan seperangkat informasi yang diatributkan kepada kedirian seseorang. Warna favorite, film kesukaan, baju yang "sedang" dipakai sekarang (foto profile), nama samaran, dan siapa yang ada di samping Anda (siblings), itu adalah identitas. Identitas itu tidak hanya seperti: agama, alamat, nickname, dst. Termasuk juga foto profile, quotation, website, dan halaman favorite. Begitulah pengertian anonymous dan identitas.
Motivasi awal dari pemakaian identitas anonymous adalah untuk menentang tabu sosial yang menghambat eksplorasi diri dan ekspresi diri di masa lalu. Saya jarang menemukan ego yang yang otentik, yang ingin memperlihatkan dia sebagaimana senyatanya (das sein).

/* Mengapa [Harus] Menggunakan Identitas Anonim */

Tipikal para pemakai identitas anonymous di facebook sangatlah beragam: pejabat yang terikat protokol standar kerja, wartawan yang menginspirasikan penuntasan kasus, orang yang ingin mencari soul-mate, mereka yang divonis bisa mati sewaktu-waktu oleh dokter spesialis, pengidap split personality, orang dengan riwayat seksual yang tidak sehat, orang-orang yang ingin bekerja tanpa gangguan, bahkan para hacker yang hendak show off dan belajar.

/* Hacker, Memberikan Petunjuk untuk Anonim */

Pemakai facebook yang berlatar-belakang sebagai hacker, jumlahnya juga sangat banyak. Mereka meretas system atau menyiasati keterbatasan system, selalu mengawali aksinya dengan satu peraturan sederhana: being anonymous. Bagaimana menjadi tersamarkan, tidak terdeteksi, dan tidak terlihat. Mereka menggunakan panduan terbaru tentang bagaimana caranya menyembunyikan koneksi, identitas, sampai memakai bahasa tertentu yang hanya dipahami oleh orang-orang yang masuk di dunia hacking. Mereka bilang, "crot!" bukan bermakna ejakulasi, namun, bisa berarti mendapatkan akses C root. Kalau mereka bilang "pulen", itu adalah istilah ketika menemukan bug dan vulnerability dari sebuah aplikasi web. Singkatnya, di balik status yang tenang dan biasa-biasa saja, terjadilah percakapan rahasia di Yahoo!Messenger dan mIRC. Itulah pelajaran dari para hacker.

/* Perempuan, yang Mengawali Pemakaian Identitas Anonim */

Sebenarnya, yang paling nyata dan paling awal melakukan "penggandaan identitas" di facebook adalah perempuan. Motif mereka untuk melindungi diri sebelum melakukan partisipasi sosial yang lebih luas. Kaum perempuan melarikan diri dari ekspresi seks biologis untuk mengatasi gangguan popularitas, ingin melepaskan diri dari kemungkinan [ter]buruk berupa perubahan arah komunikasi dan ekspresi di jejaring sosial, menjadi terror kasih sayang, pergeseran fungsi dari pembauran menjadi hubungan khusus.
Perempuan lebih sering mengawali kegiatan facebook untuk menjalin ekspresi status yang masih murni, lebih berani mencari mencari makna [tidak sekadar iseng], tidak terusik untuk melakukan transgresi maskulinitas melalui isian identitas, dan berusaha mereduksi kemungkinan menjadi tokoh kharismatik di jejaring sosial facebook.

Ekspresi perempuan lebih murni, ketika mereka bilang di status:
+ "wah, habis keramas enaknya ngapain ya?"
+ "klo d inbox jgn ressseeehh donk ..."
Dan seterusnya.
Setiap saat Anda bisa jumpai ekspresi seperti itu.

Contoh beberapa status di atas sudah menunjukkan, bagaimana ajakan komunikasi di jejaring sosial facebook menjadi sangat terbuka, dengan "idialek" dan "transliterasi" yang terus dikembangkan [sekali lagi] oleh perempuan.

/* Ekspresi versus Bahasa */

Bukan soal bahasa mana yang berkembang, yang terpenting adalah, bagaimana cara seseorang mengungkapkan "sense", pikir, dan rasa, dalam account facebook mereka, dengan catatan bahwa tidak semua ekspresi itu "tertulis".
Kadang itu sebuah gambar, photo profile (yang menjadi pertama setelah nickname yang dipakai, untuk meraih popularitas di facebook), di manakah jempol diekspresikan. Sebab jempol juga sering berupa teks. Di sini emoticon bermain, seni ASCII berperan, proverb dan quotation, hingga eufemisme (latah) ungkapan dan peristilahan-baru akan menjadi atribut permainan bernama status. Orang menjadi "kelihatan". Apakah kamu copy-paste, apakah kamu kepribadian yang digandakan, apakah kamu "one dimensional man" (istilah Herbert Marcuse) ataukah kamu pribadi yang unik, utuh, dan "gue banget".
Jadi, lupakan bahasa, lupakan originalitas, beralihlah pada ekspresi dan transkripsi lisan. Ternyata status itu trans-gender, tidak mengenal pengkotakan, apalagi jika identitas facebook dapat dipertukarkan dengan cepat. Identitas itu lintas teritori.

/* Facebook sebagai Revisi Social Networking Sebelumnya */

Facebook semula mencoba me-revisi ekses buruk dari jejaring sosial sebelumnya, dan ingin merangkum berbagai macam fitur yang terdapat pada social network yang dilahirkan sebelumnya. Menggunakan facebook dapat membuat Anda terhubung pada teman-teman "khusus", seseorang bisa menolak dan memeriksa profile calon teman, seperti layaknya Yahoo!Messenger. Facebook memungkinkan Anda meng-upload foto dan membatasi siapa yang bisa mengakses album foto, seperti di MySpace. Anda bisa menuliskan catatan disertai gambar, layaknya posting di blogger, wordpress, dan movabletype. Facebook bisa update status, layaknya message broadcasting di Twitter. Facebook bukan cuma sebuah rumah, dia telah dirancang agar compatible dengan hampir semua aplikasi web lain, seperti HelloTxt, Twitter, Yahoo, dst. bahkan terdapat versi mobile, touch, dan zero. Tidak ada social network yang memenuhi hampir semua kebutuhan berinteraksi seperti facebook.

/* Isu Privacy di Facebook */

Namun di balik ini, identitas senyatanya, dan privacy justru dipertanyakan.
Tidak ada yang mengawasi isian data yang Anda lakukan. Walaupun sebenarnya facebook bisa melakukan pengetatan aturan dalam bentuk script pemrograman, namun, ternyata tidak pernah dilakukan.

Contoh paling konkret ada 3 hal:
(1) Isian agama. Saya mendahulukan agama, karena seharusnya kesamaan agama-lah yang paling menjadi kesamaan paling universal, sebelum ada kesamaan bahasa, hobi, dan teritorial. Tidak ada ketentuan dari facebook untuk mengisi agama sesuai pilihan. Misalnya Anda beragama "Islam", Anda boleh mengisi "Islam 100%" (meskipun entri ini tidak ada dalam options drop down di profile info). Agama tidak ubahnya suatu "hobby" yang menyenangkan, seperti halnya Anda boleh mengisikan hobi: "jeng-jeng dan ngumpul ama temen-temen".
(2) Nick name, walaupun masih dibatasi dengan script untuk tidak boleh menuliskan nick tertentu, dengan sedikit trick hacking, orang bisa membuat nickname panjang, menggunakan extended character, dan masih banyak pelanggaran yang dianggap boleh oleh facebook, walaupun sebenarnya bertentangan dengan term of service. Siapa yang melanggar, siapa yang membolehkan?
(3) Aplikasi external, tidak pernah salah bagi facebook. Anda boleh menuliskan "fuck" namun tidak boleh menuliskan URL yang dilarang oleh facebook, walaupun itu di chat. Namun dengan menggunakan aplikasi external, seperti RSS Graffiti, tumblr, dll. Anda nyaris bebas melakukan apapun.

Singkatnya, full name dan real name tetaplah sebuah nickname (seseorang bernama Mary John, boleh menggunakan nickname NamaGueMary-PacarJohn-YgCakepN-GmwJadian​AnaOrgLaen), yang beragama "Islam" boleh menuliskan "Agnostic", alamat di Yogyakarta boleh ditulis Abu Dhabi, dst. Sekali lagi, facebook sebenarnya bisa memperketat dan mendeteksi otomatis isian ini, namun tidak dilakukan. Orang menikmati ini sebagai suatu kenyamanan.
Dan masih banyak lagi.

/* Identitas Anonim: Transgender, Partisipasi Politik, dan Paradoks Mendunia */
Maka ternyata, berdasarkan catatan di atas, ternyata identitas menjadi trangender, gampang dipertukarkan, tidak terawasi, dan sering mengarah kepada multiplisitas.
Kenyataan inilah yang akhirnya memanfaatkan facebook sebagai kendaraan ekspresi politik (seperti "2 Juta Facebooker Menuntut Pengusutan Kasus X"), mesin popularitas, dan seterusnya.
Paradoks yang terjadi adalah: pada saat para tokoh cultis di dunia nyata (Muggle World, kata Harry Potter) justru mengalami keruntuhan popularitas, bukan karena makna, namun karena persoalan teknis. Habis dukung atau hujat, ya sudah. Setelah facebook mem-filter pemakaian script "mengundang-otomatis" semua orang di daftar pertemanan, maka latah dukung-mendukung menjadi surut. Sebaliknya, siapapun bisa mendapatkan popularitas dan menjadikan facebook sebagai medium pembebasan diri dalam karya. Lihatlah bagaimana mercusuar dan menara gading sastra, bermunculan di mana-mana. Orang menulis puisi, menggagas kolaborasi, berkumpul karena hobi, dst.

/* Facebook: dari Fantasi Erotis hingga Keluarga Maya */
Facebook menjadi fantasi "erotis" (karena setiap hari selalu ada yang menarik, bahkan yang tak diimpikan ada dan mendatangi kita), "ruang bermain" (jika memakai perspective game-theory), serta ruang ganti-baju bagi obyek kasih sayang yang keluar masuk setiap saat. Identitas anonymous, lantas menjadi ruang permisif untuk melakukan pembebasan-diri (self-liberation).
Bayangkan apa yang terjadi, jika para perempuan tidak menulis di facebook. Tidak ada semarak sastra facebook seperti sekarang, bukan?
Di tengah popularitas seperti ini, bukan massivisme yang bermain, melainkan, persahabatan pribadi yang lebih diutamakan.
Fenomena munculnya keluarga maya (John adalah saudara lelaki dari Mary) mulai diekspresikan dalam chat box, dan dipampang pada info profile.
Wall menjadi ruang sapa keluarga maya. Persaudaraan dan kekeluargaan menjadi hubungan temporer. Konsep nucleus family (keluarga nuklir) menjadi lenyap. Keluarga menjadi identitas yang tidak akan bisa diatur oleh facebook.
Semakin mendunia, orang semakin menunjukkan dirinya apa adanya, walaupun itu dilakukan di chatbox, inbox, atau dunia keseharian (saya tidak menyebutnya dunia nyata). Acara gathering, arisan sekali pakai, klub pertobatan, jumpa pengarang dan pembaca, seminar bisnis, serta demonstrasi politik, adalah efek dari sebuah "sebab" bernama facebook. Singkatnya, persahabatan pribadi lebih diutamakan. Itulah paradoks yang terjadi.

/* Postscript */
Identitas dalam pengertian "entitas ide", adalah "ruang yang selalu berubah dan dimaknai". Identitas anonymous, dengan sekian motif yang melatarbelakangi, pada akhirnya semakin membuat hubungan sosial menjadi kompleks, unpredictable.

Bagaimana pendapat Anda?
:))
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda bisa berkomentar tanpa perlu login.

 
Day Milovich (c) 2013. Diberdayakan oleh Blogger.