Sabtu, Juli 23, 2011

Kemanusiaan dalam Kisah Cinta Robot Wall-e dan Eva

Penulis Day Milovich | Sabtu, Juli 23, 2011 | 13.05.00 |


Alkisah, bumi sudah rusak parah. Karena perang, karena eksploitasi lingkungan, karena entah. Tinggal robot yang ditugaskan membersihkan sampah. Mesin-mesin yang sengaja diajari menata-ulang barang-barang bekas, menyusun plastik, membentuk-ulang logam. Menjadi bangunan yang tinggi, menjadi arsitektur unik, semuanya yang terbuat dari sampah.
Sesekali, ada robot dari luar angkasa yang diutus untuk melakukan pemusnahan. Apapun yang tidak-efisien, disingkirkan. Yang bergerak dan masih hidup, dihancurkan atau dinonaktifkan sebagai organisme.
Yang mengutus dari langit sudah punya satu kesimpulan: bumi tidak punya harapan. Siapakah pengutusnya? Manusia.
Salah satu robot sampah itu adalah Wall-e, dan utusan langit itu bernama Eva, yang bentuknya lebih cantik, bermata biru, gesit, canggih, dan mematikan. Satu sorot matanya,, bisa membuat logam apapun lebur.
Utusan itu melanggar perintah langit.
Wall-e berkenalan,, menjalin persahabatan. Keduanya berkenalan dengan nama-nama benda sekitarnya. Eva jatuh cinta pada Wall-e,, robot biasa yang lemah, bisa dikalahkannya dalam hitungan detik. Wall-e yang kumuh, peduli sampah, dan menikmati keseharian dengan benda-benda. Wall-e memilih benda yang bisa berbunyi, bukan berlian. Dia memilih opera dari musik 8 track, bukan benda-benda sisa peperangan. Wall-e yang bahagia dengan kemelaratannya.
Dua robot itu jatuh cinta, terbang dan menari.
Sampai suatu ketika, keajaiban datang: ada satu pohon yang masih hidup. Segar, mungil, warnanya hijau. Warna pepohonan yang diabadikan dalam lagu dan gambar. Hijau bumi.
Seluruh manusia bumi yang selamat, berada di kapal terbang angkasa bernama Aksiom, mereka sudah bertahan 700 tahun. Orang-orang duduk di atas kursi, dijejali waralaba, selera tentang warna. "Merah adalah -biru-mu yang baru", kata superkomputer bernama Auto. Setiap saat mereka diberi pengertian, bahwa bumi bukanlah rumah mereka. Itu masuk di pelajaran alfabet, "A untuk Aksioma, rumah indahmu. B untuk -Beli dan Besar-, sahabatmu.".
Mereka hanya "membeli" dan "membesarkan tubuh". Bahkan untuk mencari pengertian "menari", orang mencarinya di komputer, "Komputer, beri aku pengertian -menari-". Persis ketika manusia sekarang mencari pengertian suatu kata, mereka bertanya kepada Google.
Semua kendali dilakukan otomatis oleh superkomputer Auto.
Bagaimana mereka berenang, ekspresi ketika melihat makhluk asing bernama "Wall-e", semua reaksinya sama. Mereka heboh ketika Auto memberi peringatan, "Awas ada kontaminasi!". Masyarakat yang dikendalikan informasi. Diteror oleh berita yang tidak mereka ketahui kebenarannya. Bahkan ketika sang Kapten disadarkan Wall-e (robot sampah) tentang adanya satu pohon yang bisa dikembangkan di planet bumi,, komputer tidak mau menurut.
---
CAPTAIN:
Di luar sana adalah rumah kita. *RUMAH*, Auto.
Dan rumah itu sedang bermasalah.
Aku tidak bisa berdiam-diri di sini tanpa berbuat apa-apa.
Itu yang selama ini aku lakukan!
Itu yang selama ini dilakukan semua orang di kapal ini.
Tidak berbuat apapun!

AUTO:
Di kapal Axiom, Anda akan bertahan-hidup.

CAPTAIN:
Aku tidak ingin bertahan hidup. Aku ingin hidup.

AUTO:
Anda harus ikuti perintahku. *)
---
Begitulah sebuah system, tanpa "permainan". Manusia akhirnya menuruti superkomputer, menuruti peraturan. Begitulah bumi.
Dengan banyak kejutan, akhirnya pohon itu diselamatkan. Pohon itu dikembalikan ke rumahnya, Bumi. Orang-orang di seluruh kapal Aksiom, mulai mendapatkan harapan baru: hidup di bumi. Hidup, bukan sekadar bertahan-hidup.

Sudahkah Anda menonton film ini lagi?
---
*)
info: http://imdb.com/title/tt0910970/
image credit: http://toysrevil.net
teks: day milovich,,
---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda bisa berkomentar tanpa perlu login.

 
Day Milovich (c) 2013. Diberdayakan oleh Blogger.